Lamongan (beritajatim.com) – Jumlah kasus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada hewan ternak di Kabupaten Lamongan perlahan menunjukkan peningkatan.
Kasus terbaru, petugas kesehatan dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Lamongan mendapati 3 ekor sapi suspek PMK, saat melakukan pemeriksaan di Pasar Hewan Kecamatan Tikung, Minggu (5/1/2025).
“Hari ini ada 3 ekor sapi yang suspek. Untuk sapi-sapi yang sehat, saya minta dipisahkan, lalu kita obati,” kata Kepala Disnakeswan Lamongan, Shofiah Nurhayati, usai melakukan pemeriksaan di Pasar Hewan Kecamatan Tikung.
Dengan tambahan kasus baru tersebut, hingga kini jumlah keseluruhan kasus PMK di Lamongan kurang lebih 180 ekor sapi. Dari jumlah tersebut 15 ekor di antaranya mati. “Untuk sebarannya sekarang di 21 kecamatan. Paling banyak Kecamatan Sugio,” tuturnya.
Sofiah menegaskan, upaya penanganan dan pencegahan terus dilakukan. Antara lain dengan melakukan pemeriksaan rutin di pasar hewan, hingga memberikan edukasi kepada peternak dan bantuan obat.
“Karena sumber penyakitnya itu terutama di pasar hewan, maka kita harus dipantau, memeriksa terkait dengan penyebaran yang sekarang semakin signifikan kenaikannya,” ujar Shofiah.
Selain melakukan pemeriksaan kesehatan hewan, petugas juga melakukan langkah pencegahan penularan PMK, dengan penyemprotan disinfektan di area pasar hewan.
“Sebelumnya, kemarin kita juga membesihkan pasar hewan ini dan kita semprot disinfektan. Nanti setelah pasar sapi ini selesai, juga kita semprotkan disinfektan,” tuturnya.
Shofiah menambahkan, kunci utama menanganan PMK adalah kerja sama antara terkait. Mulai dari pedagang, peternak dan petugas kesehatan hewan dari Disnakeswan.

Menurut Shofiah, peternak maupun pedagang harus lebih waspada dengan memeriksa kondisi hewan ternak milikinya. Kemudian proaktif melaporkan ke petugas kesehatan hewan Jika mendapati gejala atau tanda-tanda penyakit PMK.
“Harus segera menghubungi dinas peternakan melalui Puskeswan maupun petugas kesehatan. Karena dari situ nanti kita bisa mengobati dan memantau sejauh mana perkembangannya,” ujarnya.
Lebih lanjut Shofiah menjelaskan, penanganan dilakukan secara cepat dan tepat, agar sapi-sapi yang terjangkit PMK bisa disembuhkan.
“Kesigapan peternak dalam melaporkan gejala PMK juga menjadi faktor kesembuhan. Karena bisa segera kita lakukan penindakan. Kalau cepat ditangani tingkat kesembuhannya cukup besar,” ucap Shofiah. [fak/suf]






