Probolinggo (beritajatim.com) – Lonjakan kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di Kota Probolinggo memicu keprihatinan banyak pihak. Fenomena ini mencerminkan adanya krisis serius dalam tatanan keluarga yang seharusnya menjadi ruang aman dan nyaman bagi anggotanya.
Tak hanya meninggalkan luka fisik, kekerasan juga berdampak pada trauma emosional yang berkepanjangan. Banyak korban, khususnya perempuan, memilih hidup mandiri dan enggan kembali membangun rumah tangga.
Kondisi ini menjadi refleksi atas kegagalan rumah sebagai tempat perlindungan dan kasih sayang. Terlebih ketika kekerasan justru dilakukan oleh sosok yang seharusnya menjadi pelindung.
“Kita tidak hanya fokus pada hukuman bagi pelaku, tetapi juga bagaimana mengembalikan kepercayaan masyarakat bahwa keluarga bisa menjadi tempat aman,” ujar Nani Susilowati, Jaksa Fungsional Kejari Kota Probolinggo.
Menurut Nani, pendekatan lintas sektor sangat penting untuk pemulihan korban kekerasan. Edukasi kesetaraan gender, literasi pernikahan, hingga akses psikologis harus menjadi prioritas dalam pencegahan jangka panjang.
Data dari Dinsos PPPA Kota Probolinggo menunjukkan adanya 43 kasus kekerasan selama Januari hingga Juni 2025. Sebanyak 16 kasus dialami perempuan dan 27 sisanya menimpa anak-anak.
“Kami mendorong masyarakat untuk lebih peduli dan tidak ragu melapor jika melihat atau mengalami kekerasan,” tegas, Rey Suwigtyo, Kepala Dinsos PPPA. Ia menilai pelibatan komunitas lokal menjadi kunci dalam memutus rantai kekerasan.
Fenomena “fatherless” atau minimnya keterlibatan ayah juga turut memperburuk kondisi keluarga. Anak-anak yang tumbuh tanpa kehadiran emosional ayah rentan mengalami gangguan dalam perkembangan sosial dan mental.
Pemerintah Kota Probolinggo menekankan pentingnya sinergi semua elemen dalam membangun keluarga sehat dan bebas kekerasan. Tak hanya aparat penegak hukum, tapi juga peran masyarakat sangat dibutuhkan.
“Kalau pondasi keluarga rapuh, maka akan berdampak luas terhadap lingkungan sosial lainnya,” tambah Rey. Ia berharap langkah-langkah preventif dan pemulihan bisa dijalankan beriringan untuk masa depan generasi yang lebih sehat. (ada/ian)






