Malang (beritajatim.com) – Indonesia saat ini menempati posisi kedua dunia dalam jumlah kasus penyakit menular campak, membayangi Yaman dan berada di atas India. Lonjakan ini terjadi sejak awal tahun 2026 memicu peringatan serius dari kalangan medis mengenai pentingnya cakupan vaksinasi nasional.
Dokter Spesialis Anak Rumah Sakit Universitas Brawijaya (RS UB), dr. Laurentia Ima Monica, Sp.A., M.Biomed, mengungkapkan bahwa berdasarkan data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) tahun 2025, kasus di Indonesia mencapai 10.744 kasus. Angka ini berada di bawah Yaman (11.288 kasus) namun melampaui India (9.666 kasus).
“Hingga Februari 2026 ini, kasus suspek di Indonesia sudah mencapai angka 10 ribuan. Jika melihat tren 2025 dengan 60-63 ribu suspek dan 69 kematian, angkanya pasti akan jauh lebih tinggi jika kita tidak melakukan tindakan apa pun,” ujar dr. Laurentia dalam keterangannya di Malang, Rabu (11/3/2026).
Menurut dr. Laurentia, tingginya angka suspek ini disebabkan oleh belum tercapainya target cakupan vaksinasi ideal. Saat ini, cakupan vaksinasi di Indonesia masih berada di angka 83%, sementara untuk menciptakan kekebalan komunitas (herd immunity) yang efektif, diperlukan angka di atas 95%.
“Resistensi sebagian masyarakat terhadap vaksinasi menjadi salah satu faktor penghambat. Padahal, kekebalan komunitas sangat penting untuk melindungi kelompok rentan yang secara medis tidak bisa divaksin, seperti penderita penyakit kronis, pasien yang mengonsumsi steroid, bayi, hingga ibu hamil,” jelasnya.
Campak merupakan penyakit yang menular melalui udara. Masyarakat diminta waspada terhadap fase klinis penyakit ini. Fase Inkubasi (10-14 hari): Masa terpapar hingga timbul sakit. Fase Prodromal (4 hari): Ditandai ‘Trias Campak’ yakni demam, pilek, dan mata merah, serta bintik putih di pipi bagian dalam.
Kemudian, Fase Erupsi (4-10 hari): Muncul kemerahan merata dan bintil dari area kepala merambat ke seluruh tubuh. Terakhir, Fase Konvalesen: Masa penyembuhan di mana bercak berubah kecokelatan dan bersisik.
Meski bisa sembuh, dr. Laurentia memperingatkan bahwa campak dapat berujung pada kondisi berat seperti pneumonia, gagal napas, infeksi otak, hingga kejang. Mengingat belum adanya antivirus spesifik untuk campak, kesembuhan sangat bergantung pada daya tahan tubuh pasien.
“Jika sudah mengalami gejala awal, segera periksakan ke dokter secepat mungkin. Penanganan yang terlambat akan menyulitkan proses pemulihan,” tambahnya.
Sebagai langkah pencegahan, masyarakat diimbau untuk melengkapi vaksinasi rutin anak sejak usia 9 bulan, menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), rutin mencuci tangan, menghindari kerumunan, serta melakukan isolasi mandiri jika mengalami gejala klinis. (dan/ted)






