Bangkalan (beritajatim.com) – Lonjakan kasus campak di Kabupaten Bangkalan terus mengkhawatirkan. Tercatat, selama tahun 2025 ini, sebanyak 275 orang khususnya anak-anak menderita penyakit tersebut.
Data tersebut diungkapkan oleh dokter Spesialis Anak RSUD Syarifah Ambami Rato Ebu (Syamrabu) Bangkalan dr. Mega Malynda. Menurutnya, lonjakan kasus campak di Bangkalan paling tinggi di bulan Agustus 2025 yang mencapai 50 kasus.
Dari 50 kasus tersebut, sebanyak 17 balita masih dirawat di RSUD Bangkalan. Bahkan ruang isolasi khusus anak sudah penuh akibat peningkatan jumlah pasien. “Semua pasien yang dirawat saat ini berusia di bawah lima tahun, mayoritas dua sampai empat tahun,” ujarnya, Selasa (26/8/2025).
Sebelumnya, Kepala Dinas Kesehatan Bangkalan, Nur Hotibah, menyebut kasus campak berat sebagian besar dialami anak-anak yang belum pernah mendapat imunisasi.
“Apabila pasien yang sudah dapat imunisasi terkena campak, maka gejala tidak akan seberat pasien yang belum imunisasi,” jelasnya, Senin (25/8/2025).
Dia menambahkan, Bangkalan termasuk wilayah dengan tantangan besar dalam hal cakupan imunisasi. Faktor jarak ke layanan kesehatan, minimnya kesadaran orang tua, hingga pengaruh informasi keliru di masyarakat kerap menjadi penghambat.
“Anak-anak bisa mendapatkan imunisasi dasar lengkap di posyandu, dan para orang tua harus aktif membawa anak-anak untuk imunisasi,” tambahnya.
Dia mengaku, sudah gencar melakukan sosialisasi melalui posyandu maupun media sosial. Edukasi yang diberikan mencakup pengenalan gejala campak, langkah penanganan awal, hingga pentingnya imunisasi lengkap untuk anak.
Namun demikian, upaya ini harus ditopang oleh kesadaran kolektif masyarakat. Tanpa partisipasi aktif orang tua, program imunisasi tak akan maksimal. “Kuncinya adalah pencegahan. Jangan menunggu anak sakit, baru menyesal karena tidak diimunisasi,” pungkasnya. [sar/suf]






