Itqon Syauqi berangkat ke gedung parlemen bukan tanpa bekal pengetahuan politik. Politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini pernah menjadi demonstran saat kuliah di Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Terkadang Itqon terkenang romantisme masa mahasiswa saat menerima aksi unjuk rasa mahasiswa di DPRD Kabupaten Jember, Jawa Timur. Salah satu aksi unjuk rasa yang dikenang Itqon adalah menentang invasi Amerika Serikat ke Irak. “Setiap menerima aksi unjuk rasa seperti nostalgia,” katanya.
[berita-terkait number=”5″ tag=”dprd-jember”]
Saat kuliah, Itqon sempat aktif sebagai Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Ushuluddin 2003-2005 dan menjadi aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia. “Dulu kalau bukan kutu buka alias suka baca, jangan pegang megafon. Bisa dibully. Dulu saya saat memegang megafon, orasi dengan mengutip Gramsci, Weber, Foucault. Mengutip Goenawan Mohamad. Itu dihapalkan, tidak pakai catatan atau contekan. Kalau pakai contekan bisa diteriaki,” katanya.
Itqon mengutip Tan Malaka. “Idealisme adalah satu-satunya kemewahan yang dimiliki kaum muda,” katanya, ditulis Senin (26/9/2022).
Kadang Itqon bertanya dalam hati saat menerima aksi unjuk rasa mahasiswa. “Apakah ini karma? Dulu saya tukang demo, sekarang saya yang didemo,” katanya.
Namun apapun itu, Itqon memuji para mahasiswa Jember. “Luar biasa. Benar, bahwa Jember ini kota pelajar. Semangat mahasiswa era sekarang masih sangat luar biasa dalam menyuarakan aspirasi rakyat. Insya Alllah, saya yakin, Jember dan Indonesia tidak akan pernah kehabisan stok calon pemimpin yang berintegritas dan memperjuangakn hak-hak dan aspirasi rakyat,” katanya.
Saat ini, menurut Itqon, sebagian generasi muda Indonesia sudah apatis dan nihilis. “Kabar baiknya, masih ada mahasiswa Jember yang mau memperjuangkan aspirasi masyarakat berjam-jam di bawah terik matahari,” katanya.
Itqon memuji mahasiswa yang masih mau mengedepankan diskusi dalam menyuarakan kepentingan masyarakat. “Saya sangat bangga dengan Jember, yang potret mahasiswanya seperti ini. Ini yang dibutuhkan Jember sebagai kota pelajar: kritisisme,” katanya. [wir/kun]






