Bojonegoro (beritajatim.com) – Aliansi Relawan Prabowo Gibran Jawa Timur mendeklarasikan diri untuk mengusung Achmad Muhatarul Huda sebagai bakal calon Bupati Bojonegoro dalam Pilkada 2024. Deklarasi dilakukan di warung makan K-Noman Desa Campurejo Kecamatan/Kabupaten Bojonegoro, Sabtu (13/7/2024) siang.
Presidium Aliansi Relawan Prabowo Gibran Jawa Timur, Aven Januar mengatakan, sosok Achmad Muhatarul Huda yang karib disapa Kang Huda diyakini sebagai figur yang tepat untuk membawa Bojonegoro yang lebih baik. Secara akademik, Kang Huda dinilai cukup mumpuni untuk mengelola APBD Bojonegoro yang tinggi untuk pembangunan sumber daya manusia (SDM).
“Kami bersama masyarakat akan segera melakukan deklarasi terbuka di wilayah Kabupaten Bojonegoro menindaklanjuti deklarasi kami hari ini,” ujar Aven Januar, usai deklarasi yang dihadiri sekitar 130 orang.
Menurut Aven, latar belakang Kang Huda, sebagai sosok satrio piningit Bojonegoro yang berasal dari santri At-Tanwir Bojonegoro, merupakan pendatang baru di dunia politik daerah penghasil migas. Namun, kata dia, sosoknya berintegritas dan bersih dari korupsi sehingga dipandang mampu mengelola APBD Bojonegoro yang besar.
Dengan postur APBD 2023 Bojonegoro, sebesar Rp7,4 triliun atau tertinggi nomor 2 di Jawa Timur setelah Surabaya, namun faktanya Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Bojonegoro masih di urutan buncit atau di bawah rata-rata Jawa Timur, yakni masuk lima terendah se-Jatim. Ini yang menjadi konsen Kang Huda jika terpilih sebagai Bupati Bojonegoro periode 2024-2029.
Ada tiga indikator dalam penyusunan IPM, meliputi kesehatan dari rata-rata harapan hidup, indeks pendidikan yakni harapan lama sekolah dan rata-rata lama sekolah, serta standar hidup layak yang diukur dari nilai daya beli. “Sehingga ketiga indikator tersebut gagal dipenuhi oleh Pemerintah Kabupaten selama 4 tahun belakangan ini,” ujarnya.
Permasalahan Bojonegoro yang kedua, yang menjadi konsen Kang Huda, adalah kesenjangan program pembangunan antara Bojonegoro barat dan Bojonegoro timur. Hal itu tampak nyata rendahnya kualitas jalan di hampir 70 persen panjang jalan Bojonegoro bagian barat. Selama 5 tahun belakangan ini Pemkab Bojonegoro gagal melakukan pembangunan yang berkeadilan dan merata.
Kesenjangan kehidupan warga wilayah pedesaan dan wilayah perkotaan disebabkan rendahnya dukungan Pemkab Bojonegoro pada agenda pembangunan di wilayah pedesaan. Masih rendahnya agenda pemberdayaan ekonomi warga desa baik pelatihan UMKM maupun akses pada permodalan usaha.
“Karena ketiga permasalahan diatas sehingga kami dari 11 Elemen Prabowo-Gibran melihat kebutuhan akan adanya perubahan bagi kepemimpinan di Kabupaten Bojonegoro melalui Pemilihan Bupati 2024 mendatang,” pungkasnya. [lus/ian]






