Jember (beritajatim.com) – Arismaya Parahita, bakal calon wakil bupati independen atau perseorangan, akan berjuang keras agar tak ada calon tunggal dalam pemilihan kepala daerah di Kabupaten Jember, Jawa Timur.
“Kami fight betul untuk menjaga proses demokrasi. Tidak boleh kita biarkan kontestasi di Jember (hanya ada satu calon) melawan kotak kosong. Jangan sampai terjadi, karena merugikan kita semua,” kata Arismaya, Kamis (11/7/2024).
Gerakan pencalonan bupati dan wakil bupati perseorangan, menurut Arismaya, adalah untuk menyediakan opsi alternatif bagi rakyat pemilih. “Suara masyarakat yang murni belum tentu mengikuti (memilih) calon yang ada sekarang,” katanya.
“Jember masyarakatnya plural. Pandalungan. Dari semua sisi, Jember tidak bisa dipukul rata. Ada yang terdidik, ada yang tidak, ada Jawa, Madura, dan jumlah penduduk besar sekali. Kemudian logika yang mana, dari pluralitas yang seperti begitu, lalu ditarik hanya memilih satu orang saja. Tidak sehat dong,” kata Arismaya.
Arismaya mengingatkan, keinginan masyarakat Jember beragam. “Seharusnya partai berani mencalonkan kader sendiri. Jangan hanya karena pragmatisme politik,” katanya.
“Sekarang yang mendorong (calon tunggal melawan) kotak kosong itu apa? Kan menang-menangan. Kekuasaan. Itu bukan demokrasi. Demokrasi tidak main kekuasaan,” tegas mantan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Jember ini.
“Demokrasi itu leadership. Soal bagaimana menampung suara masyarakat, membangun diskusi, membangun wacana dan percakapan, itu demokrasi. Kalau ada pihak yang maunya menang-menangan, bukan demokrasi lagi,” kata Arismaya.
“Jadi menurut saya kalau ada upaya menyeret ke sana (calon tunggal lawan kotak kosong), itu adalah antidemokrasi, termasuk cermin tidak mengetahui aspirasi kebutuhan masyarakat. Ini pendidikan yang jelek untuk rakyat,” kata Arismaya.
Arismaya menolak semua upaya untuk menjadikan pertarungan dalam pemilihan kepala daerah di Jember tidak seimbang. “Itu tidak sehat untuk demokrasi. Banyak aspirasi yang seharusnya tersalurkan menjadi tidak tersalurkan. Kami ingin gerakan independen ini melawan pragmatisme politik,” katanya.
“Ini gerakan moral, murni demokrasi, sehingga rakyat dengan suara hati mereka menyalurkan aspirasi. Jadi komandannya adalah semangat kebebasan, kemandirian masyarakat. Kami ingin meluruskan arah demokrasi di Jember. Jember jangan digawe dolanan,” kata Arismaya.
Sebagaimana diberitakan, sementara ini baru ada satu sosok yang memperoleh lampu hijau dari partai politik untuk pencalonan bupati Jember, yakni Muhammad Fawait, seorang anggota DPRD Jatim dari Gerindra. Ia mendapat dukungan dari PKB, PKS, Nasdem, dan PAN, selain Gerindra.
Tiga partai yang punya kursi di DPRD Jember, yakni Golkar, PDI Perjuangan, dan Partai Persatuan Pembangunan masih belum memberikan dukungan kepada salah satu kandidat bupati. [wir]






