Malang (beritajatim.com) – Dua dokter dari Universitas Brawijaya (UB) membawa pulang kisah yang menggetarkan nurani setelah hampir tiga pekan menjalankan misi kemanusiaan di Gaza, Palestina. Bukan hanya cerita tentang luka perang, melainkan juga tentang kelaparan massal yang mereka saksikan langsung.
Mereka menyaksikan m rekan sesama dokter jatuh pingsan karena menahan lapar hingga sebungkus permen menjadi barang mewah yang penuh syukur. Dr. dr. Mohammad Kuntadi Syamsul Hidayat, Sp.OT, dan Dr. dr. Ristiawan Muji Laksono, Sp.An-TI, kembali ke Indonesia dengan kesaksian pilu dari Rumah Sakit An-Nasr dan Rumah Sakit Eropa, dua benteng terakhir layanan kesehatan di tengah krisis.
“Ini adalah titik emosional bagi saya. Selama hampir 40 tahun menjadi dokter, saya belum pernah menyaksikan kondisi seperti di sana,” ungkap Dr. Kuntadi saat disambut haru di kampus UB, Selasa (5/8/2025) sore.
Kondisi paling mencolok yang mereka temukan bukanlah hanya luka akibat serangan, melainkan kelaparan yang merata. Dr. Ristiawan menceritakan momen memilukan saat tenaga medis lokal pun menjadi korban.
“Seorang dokter spesialis di sana sampai harus diinfus karena tidak makan selama two hari. Anaknya menangis semalaman karena lapar,” kenang Dr. Ristiawan.
Rasa kemanusiaan membuat mereka tak tega makan sendiri. Dalam sebuah momen yang membekas, mereka membagikan permen yang mereka miliki. “Bahkan pernah satu permen Kopiko kami bagi ke dokter di sana. Mereka menerimanya dengan penuh syukur,” ujarnya.
Pemandangan warga sipil yang kurus dan lemah meminta makanan di pinggir jalan menjadi hal yang biasa. “Mereka lapar, tapi tidak kasar. Hungry but not angry,” tambah Dr. Ristiawan, menggambarkan ketegaran warga Gaza.
Kondisi fasilitas kesehatan di Gaza berada di titik nadir. Dr. Ristiawan menggambarkan kapasitas rumah sakit melonjak hingga 250% dari kondisi normal. Banyak bangunan vital, termasuk blok cuci darah (hemodialisis), hancur lebur akibat bom. Akibatnya, pasien terpaksa dirawat di tenda-tenda darurat yang didirikan seadanya.
“Obat kurang, air bersih terbatas, fasilitas rusak, dan risiko keamanan tinggi. Standar medis yang biasa kami jalankan tak bisa diterapkan sepenuhnya,” jelasnya. Prosedur medis terpaksa dilakukan dengan peralatan seadanya dan obat-obatan generasi lama yang tersisa.
Setiap detik di Gaza adalah pertaruhan nyawa. Suara dentuman bom menjadi latar yang tak pernah berhenti. Dr. Kuntadi menceritakan salah satu momen paling membekas saat menangani seorang anak perempuan berusia belum genap dua tahun yang bersimbah darah akibat terkena peluru.
“Anak-anak kecil tergeletak di lantai, tubuh mereka dipenuhi darah, bernapas tersengal-sengal tanpa perawatan layak, sementara asupan gizi nyaris tidak ada,” tuturnya dengan suara bergetar.
Ancaman sniper membuat ruang gerak mereka sangat terbatas. Selama dua minggu, mereka tidak pernah keluar dari kompleks rumah sakit. Mengambil foto atau membuka ponsel adalah tindakan berbahaya karena semua aktivitas diawasi secara ketat.
Meski penuh risiko, keduanya berangkat dengan tekad bulat. Bagi Dr. Kuntadi, ini adalah panggilan jiwa yang tak bisa ditolak. “Kematian sudah ditentukan. Kenapa harus takut? Takdir kita sudah tertulis sebelum lahir, jadi saya menerima tawaran ini bahkan sebelum izin ke keluarga,” tegasnya.
Kini, setelah kembali, Dr. Kuntadi dan Dr. Ristiawan mengajak masyarakat Indonesia untuk tidak menutup mata. Mereka menekankan bahwa bantuan sekecil apa pun, termasuk doa dan kepedulian, adalah kekuatan besar bagi mereka yang bertahan di tengah reruntuhan Gaza. (dan/kun)






