Yogyakarta (beritajatim.com)– Indonesia tengah memasuki babak baru dalam struktur kependudukan. Jumlah penduduk lanjut usia (lansia) terus meningkat dan menandai pergeseran menuju masyarakat menua (ageing population).
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, proporsi lansia pada 2024 telah menembus 12 persen dari total populasi dan diperkirakan melampaui 20 persen pada 2045.
Perubahan ini sering dianggap sebagai beban sosial. Namun, para ahli menilai tren tersebut justru bisa menjadi bonus demografi kedua jika dikelola dengan strategi yang tepat.
Guru Besar Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM bidang Fisiologi Olahraga, Prof. Dr. dr. Denny Agustiningsih, M.Kes, AIFM, menegaskan bahwa meningkatnya populasi lansia harus dilihat sebagai peluang pembangunan jangka panjang.
“Lansia bukan kelompok pasif. Dengan kebijakan dan layanan kesehatan yang memadai, mereka tetap bisa produktif dan berkontribusi secara sosial maupun ekonomi,” ujarnya.
Denny menyebut Daerah Istimewa Yogyakarta saat ini menjadi provinsi dengan persentase lansia tertinggi di Indonesia. Posisi berikutnya ditempati Jawa Timur dan Jawa Tengah.
Kondisi tersebut, menurutnya, menjadi sinyal penting bagi pemerintah daerah dan pusat untuk memperkuat sistem layanan kesehatan berbasis lansia. Fokusnya bukan hanya pengobatan, tetapi juga pencegahan penyakit kronis, peningkatan kualitas hidup, serta menjaga kemandirian di usia lanjut.
“Pendekatannya harus holistik, mulai dari aktivitas fisik, pola makan sehat, sampai dukungan sosial,” jelasnya.
Direktur Rumah Sakit Akademik (RSA) UGM, Dr. dr. Darwito, SH, Sp.B.Subsp.Onk(K), menjelaskan bahwa proses penuaan dipengaruhi kombinasi faktor genetik dan lingkungan.
Gen memang berperan dalam menentukan risiko penyakit degeneratif, tetapi gaya hidup memiliki pengaruh besar dalam memperlambat atau mempercepat proses tersebut.
“Aktivitas fisik rutin, nutrisi seimbang, manajemen stres, dan lingkungan sosial yang positif sangat menentukan kualitas hidup lansia,” ungkap Darwito.
Sementara itu, dokter spesialis saraf Dr. dr. Astuti, Sp.N, Subsp.NGD(K), menyoroti pentingnya menjaga fungsi kognitif. Menurutnya, kemampuan berpikir yang baik membuat lansia tetap mandiri, mampu mengambil keputusan, dan beradaptasi dengan perubahan zaman.
Fungsi kognitif yang terawat juga menurunkan risiko demensia, disabilitas, serta ketergantungan terhadap orang lain.
“Merawat otak sama pentingnya dengan merawat tubuh. Otak yang sehat bukan hanya untuk individu, tapi berdampak pada kekuatan bangsa,” kata Astuti.
Ia menambahkan, lansia yang aktif dapat menjadi sumber pengetahuan, mentor, sekaligus teladan bagi generasi muda. Produktivitas di usia lanjut justru memperkuat kohesi sosial dan membangun masyarakat yang lebih inklusif. [aje]






