Magetan (beritajatim.com) – Rokok dan tembakau masih menjadi komoditas dengan porsi pengeluaran terbesar masyarakat Kabupaten Magetan. Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Magetan mencatat, pada 2025 rata-rata pengeluaran rumah tangga untuk rokok dan tembakau mencapai Rp 81.369 per kapita per bulan, atau setara 12,36 persen dari total pengeluaran konsumsi.
Kepala BPS Kabupaten Magetan, Mohamad Samsodin, menyebut tingginya alokasi belanja rokok mencerminkan pola konsumsi masyarakat yang masih perlu menjadi perhatian berbagai pihak.
“Rokok dan tembakau jadi pengeluaran konsumsi masyarakat terbanyak setelah makanan. Data ini menjadi penting sebagai bahan evaluasi kebijakan, terutama terkait kesehatan dan kesejahteraan,” ujar Mohamad Samsodin, berdasarkan Publikasi Statistik BPS Magetan Indikator Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Magetan 2025 Volume 10, 2025
Secara keseluruhan, rata-rata pengeluaran penduduk Kabupaten Magetan pada 2025 mencapai Rp 1.309.684 per kapita per bulan. Angka ini meningkat dibandingkan 2024 sebesar Rp 1.135.005 dan 2023 yang tercatat Rp 1.117.474.
Berdasarkan kelompok pengeluaran, 20 persen penduduk dengan pengeluaran tertinggi mencatat rata-rata pengeluaran Rp 3.097.164 per kapita per bulan. Sementara itu, kelompok 40 persen terbawah berada pada kisaran Rp 630.906, dan kelompok 40 persen menengah sebesar Rp 1.181.013.
Selain nominal pengeluaran yang meningkat, BPS juga mencatat pergeseran struktur konsumsi masyarakat. Pada 2025, pengeluaran non-makanan mencapai 50,26 persen, lebih besar dibandingkan pengeluaran makanan yang berada di angka 49,74 persen.
Menurut Samsodin, kondisi tersebut menunjukkan meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap sektor non-makanan seperti perumahan, pendidikan, transportasi, serta barang dan jasa lainnya.
“Jika proporsi pengeluaran non-makanan sudah lebih besar dari makanan, itu biasanya menjadi indikator meningkatnya kesejahteraan rumah tangga,” jelasnya.
Untuk kelompok makanan lainnya, pengeluaran terbesar adalah makanan dan minuman jadi sebesar Rp 195.044 per kapita per bulan atau 29,63 persen. Kemudian rokok atau tembakau. Disusul sayur-sayuran sebesar Rp 64.815, buah-buahan Rp 39.172, serta ikan dan hasil laut sebesar Rp 25.919 per kapita per bulan.
BPS menegaskan, data pengeluaran rumah tangga menjadi indikator penting dalam membaca kondisi sosial ekonomi masyarakat, sekaligus sebagai dasar perencanaan kebijakan pembangunan daerah dan pengendalian inflasi.
“Data ini tidak hanya menggambarkan pola konsumsi, tetapi juga menjadi pijakan dalam perumusan kebijakan sosial dan ekonomi daerah,” pungkas Mohamad Samsodin. [fiq/aje]






