Ringkasan Berita
- Bayi perempuan terlantar di Kediri resmi diserahkan ke Dinas Sosial.
- Kondisi bayi dinyatakan sehat setelah dirawat selama sepekan di RSUD SLG.
- Polisi masih menyelidiki kasus pembuangan bayi tersebut.
- Bayi akan mendapatkan pengasuhan sementara di panti milik Pemprov Jatim.
Kediri (beritajatim.com) – Bayi terlantar di Kediri yang ditemukan warga di pinggir jalan area persawahan pada Kamis (28/5/2026) lalu, resmi diserahkan ke Dinas Sosial Kabupaten Kediri setelah menjalani perawatan intensif selama sekitar satu minggu di Rumah Sakit Daerah Simpang Lima Gumul (RSUD SLG).
Penyerahan dilakukan setelah kondisi kesehatan bayi perempuan tersebut dinyatakan stabil dan layak untuk mendapatkan penanganan lanjutan melalui mekanisme perlindungan sosial yang berlaku.
Direktur RSUD SLG Kediri, dr. Tony Widyanto, menjelaskan bayi menunjukkan perkembangan yang menggembirakan selama menjalani perawatan medis.
Menurutnya, kondisi kesehatan bayi saat ini sudah jauh lebih baik dibandingkan saat pertama kali dibawa ke rumah sakit setelah ditemukan warga.
“Hari ini penyerahan serah terima bayi terlantar yang kemarin yang telah kita rawat beberapa hari ini sudah baik, kondisi sehat dan layak untuk dirawat di tempat lain ya,” ujarnya.
Meski demikian, tim medis masih mencatat beberapa kondisi kesehatan yang perlu mendapatkan pemantauan berkala. Salah satunya berkaitan dengan kondisi jantung yang umum ditemukan pada bayi yang lahir prematur.
dr. Tony menjelaskan terdapat kebocoran kecil pada jantung bayi. Namun kondisi tersebut masih tergolong wajar dan berpotensi menutup seiring pertumbuhan bayi.
“Jadi gini ya, kalau bayi prematur itu kadang kan ada jantung itu masih belum nutup ya, ada kebocoran dikit. Tapi itu nanti kita pantau, kita lihat bahwa itu nanti bisa nutup. Jadi sebenarnya tidak murni itu akan menimbulkan cacat yang permanen, enggak karena memang dia masih prematur, jadi memang ada kebocoran sedikit jantung itu wajar,” jelasnya.
Selain kondisi kesehatan yang stabil, perkembangan positif juga terlihat dari peningkatan berat badan bayi selama menjalani perawatan.
Saat pertama kali masuk rumah sakit pada 28 Mei 2026, berat badan bayi tercatat sekitar 2,2 kilogram. Dalam waktu kurang dari satu minggu, berat badannya meningkat menjadi 2,45 kilogram.
Kenaikan tersebut menjadi salah satu indikator bahwa bayi merespons perawatan dengan baik.
“Beratnya naik. Dari 2.200 ya, jadi 2.450. Masuknya kan tanggal 28 sekarang tanggal 4, artinya berarti seminggu sudah naik kan? Kurang lebihnya bagus,” terang dr. Tony.
Sementara itu, Kapolsek Ngasem Iptu Bambang Supaku menjelaskan bayi tersebut pertama kali ditemukan oleh seorang warga bernama Mujianto yang kemudian melaporkan temuannya kepada pihak kepolisian.
Setelah menerima laporan, polisi segera berkoordinasi dengan RSUD SLG untuk memberikan penanganan medis terhadap bayi tersebut.
Meski kondisi bayi kini telah membaik dan mendapatkan perlindungan sosial, penyelidikan terhadap pelaku pembuangan bayi masih terus berlangsung.
“Tetap berlanjut. Tetap berlanjut. Tetap berlanjut. Tetap diproses dengan hukum ya,” tegas Bambang Supaku.
Menurutnya, polisi telah memeriksa sejumlah saksi dan melakukan koordinasi dengan berbagai pihak untuk mengungkap pelaku yang bertanggung jawab atas kasus tersebut.
“Saksi sudah ada, tapi juga ada dua saksi yang sudah diperiksa sekarang ini, tapi belum menemukan untuk titik terangnya. Jadi sekarang ini untuk yang melakukan atau untuk terlapornya itu masih dalam lidik dan kita sudah kerjasama dari Buser Polres juga sudah kita hubungi, terus dari kepala desa, dari tingkat RT, RW juga sudah kita hubungi tapi sampai saat ini masih dalam lidik,” jelasnya.
Kepala Dinas Sosial Kabupaten Kediri, Subur Widono, memastikan bayi tersebut akan mendapatkan perlindungan dan pengasuhan lanjutan melalui lembaga yang telah ditunjuk pemerintah.
Untuk sementara waktu, bayi akan ditempatkan di panti milik Pemerintah Provinsi Jawa Timur di Sidoarjo yang selama ini menangani anak-anak terlantar maupun anak yang tidak diketahui identitas orang tuanya.
“Alhamdulillah sehat-sehat, meskipun ada beberapa catatan kesehatan yang tentunya nanti perlu diperhatikan dan perlu dipertimbangkan di sana. Artinya terkait dengan perlakuan-perlakuan yang teman-teman di panti Sidoarjo nantinya,” ungkap Subur.
Menurutnya, seluruh kebutuhan dasar bayi akan dipenuhi selama berada dalam pengasuhan lembaga sosial hingga ada keputusan lebih lanjut sesuai ketentuan yang berlaku.
Terkait kemungkinan adopsi, Subur menegaskan bahwa proses tersebut tetap dimungkinkan. Namun, calon orang tua angkat harus melalui berbagai tahapan administrasi dan persyaratan yang telah ditetapkan pemerintah.
Proses pengangkatan anak dilakukan secara ketat untuk memastikan hak-hak anak terlindungi dan calon orang tua angkat memenuhi seluruh ketentuan hukum yang berlaku.
“Tentunya bisa saja (diadopsi), tapi tentunya adopsi itu kan ya perlu banyak hal yang perlu diartinya dilalui. Jadi adopsi itu kan tidak untuk semuanya bisa mengadopsi, tetapi tentunya dengan aturan-aturan yang ada dan ya harus ikut aturan itu,” tandasnya.
Kasus bayi terlantar ini menjadi perhatian publik di Kabupaten Kediri. Di tengah proses penyelidikan yang masih berjalan, kondisi bayi yang terus membaik memberikan harapan baru agar dapat tumbuh dan memperoleh pengasuhan yang layak melalui sistem perlindungan anak yang telah disiapkan pemerintah. [nm/beq]






