Surabaya (beritajatim.com) – Mungkin sebagian orang sudah tak asing lagi dengan istilah job hopping. Menurut pengertiannya Job hopping yang terdiri dari dua kata, yakni job yang berarti pekerjaan dan hop melompat. Sederhanyanya, ia merupakan istilah untuk mereka yang yang kerap berganti-ganti pekerjaan..
Alasan berganti-ganti pekerjaan pun cukup beragam. Terlebih setiap orang memiliki alasannya masing-masing. Bisa jadi karena alasan jobdesk yang tidak sesuai passion atau perjanjian awal.
Bisa juga karena tidak nyaman dengan lingkungan maupun rekan kerja. Hingga akhirnya membuat seseorang lebih memilih mencoba beralih ke pekerjaan lain yang dirasa lebih sesuai.
Job Hopping ini belakangan menjadi semakin sering terjadi. Sebab, para generasi millenial yang telah bekerja sering merasa tidak puas atau tidak cocok dengan pekerjaan sehingga memutuskan untuk berpindah.
Kaum milenial memang lebih dikenal sebagai sosok yang menyukai tantangan. Namun, juga tidak serta merta cepat merasa puas dengan suatu pencapaian. Tak ayal jika karakteristik yang dibawanya tersebut turut memunculkan fenomena baru.
Fenomena job hopping pun menjadi sangat lekat dengan mereka. Bahkan, dalam kurun waktu yang cukup singkat, dalam hitungan enam bulan atau satu tahunan mereka bisa saja memilih untuk beralih ke perusahaan lain. Hal tersebut tentu memiliki dampak, mulai dari yang positif hingga bahkan negatif.
Manfaat menjadi job hopper yang paling dirasakan mungkin dari segi pengalaman. Bergantinya ia dari perusahaan satu ke perusahaan lain tentu akan memberikan pengalaman tersendiri baginya.
Dari pengalaman tersebutlah kemudian job hopper bisa mengambil pelajarannya. Selain itu mereka juga bisa mendapatkan relasi lebih banyak. Bahkan ada alasan lain yang ingin mereka capai, yakni menambahkan banyak wawasan untuk mengejar karir yang lebih tinggi.
Meskipun begitu, ada beberapa dampak negatif dari fenomena job hopping ini, salah satunya ialah penilaian orang yang menganggapnya sebagai sosok kurang loyal dengan perusahaan. Dampak negatif lainnya yakni adanya kungkinan hilangnya kesempatan untuk dipromosikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Karena kaum milenial tipe orang yang tidak sabar terlebih dalam mendapatkan jabatan lebih tinggi, tak ayal mereka biasanya ingin segera beralih mencoba pekerjaan lain. Namun, dalam beberapa kasus sebenarnya ada banyak kemungkinan sebenarnya orang-orang tersebut masuk dalam list yang hendak dipromosikan. Tapi karena mereka tidak sabaran memutuskan untuk resign, maka kesempatan tersebutpun akhirnya lenyap.
Maka sebaiknya para job hopper sebelum memutuskan berpindah tempat kerja, pastikan terlebih dahulu dengan matang. Karena keputusan yang dibuat dengan kesadaran dan ketenangan, tentu juga dapat mempengaruhi datangnya kabar baik untuk ke depannya. [fyi/tur]






