Surabaya (beritajatim.com) – Jim Joker, sebagai brand alas kaki kulit, menginisiasi kerja sama dengan SMKN 12 Surabaya (jurusan kulit). Kerja sama untuk membuat produk merchandise bagi Jim Joker. Ini merupakan langkah Jim Joker untuk mulai membangun industri kulit bersama institusi pendidikan.
“Langkah ini juga merupakan tempat bagi Jim Joker untuk memperkenalkan karya anak-anak SMK kepada pasar,” ujar Marketing Manager Jim Joker, Samuel Adidharma Lukito di SMKN 12 Surabaya, Jumat (20/10/2023).
Samuel menyebut, limbah sisa produksi sandal dan sepatu itu sudah tidak bisa dimanfaatkan jadi produk jual. Tetapi bisa dimanfaatkan dan diolah merchandise yang memiliki harga jual tinggi.
“Dari sisa produksi alas kaki, kita menemukan banyak limbah yang gak bisa dipakai produksi alas kaki, karena susah dijadikan sepatu dan sandal,” jelasnya.
Untuk 200 merchandise gantungan kunci masing-masing berukuran sekitar 6 x 3 sentimeter itu bisa diolah dari limbah 40 feet yang dikumpulkan selama beberapa bulan.
“Ini baru pertama jadi cari produk yang mudah dahulu. Dilihat bagaimana kelanjutan, apakah produk ini bisa jangka panjang maka bisa produk model lain,” kata dia.
Sementara itu, Belasan siswa-siswi SMKN 12 Surabaya antusias mengolah limbah kulit sapi jenis smooth grain jadi sejumlah merchandise pameran.
Potongan limbah kulit sapi berjumlah total 40 feet atau sekitar 12 meter itu diolah jadi 200 produk merchandise berupa gantungan kunci.
BACA JUGA:
Kerajinan Kulit Magetan Bisa Masuk E-Katalog, Tapi Saat Ini Belum Tayang
Firmansyah Kepala Jurusan Kriya Kulit SMKN 12 Surabaya menyebut, hanya butuh waktu maksimal tiga hari untuk membentuk potongan model gantungan kunci. Pengerjaan melibatkan 18 dari 31 siswa dalam proyek merchandise.
“Prosesnya bisa cepat ketika prototipe (produk contoh) dapat approval (persetujuan) dari industri. Biar bisa cepat kita pesan pisau pond dan jadi cepat motong untuk 100 produk dalam satu hari. Jadi kalau dua jenis produk bisa dua sampai tiga hari untuk proses potong,” kata dia.
Produk gantungan kunci dinilai yang paling mudah dibuat dibandingkan karya wajib lain para siswa. Menurutnya industri dan market yang disasar paling banyak memang produk non alas kaki dan non busana.
“Ada tas, sepatu, dompet, merchandise kecil boneka, gantungan kunci. Yang paling banyak produk non alas kaki dan non busana karena narget indsutri dan target market sekitar yang paling banyk itu. Baru kemudian alas kaki,” tambahnya.
BACA JUGA:
Berdiri Sejak 1986, Ini Satu-satunya Kerajinan Sarung Tenun Ikat di Kota Mojokerto
Sementara bahan dasar kulit itu, lanjutnya, memanfaatkan limbah industri lokal sepatu kulit.
“Mereka (para siswa) buat prototipe diajukan ke Jim Joker (lokal brand sepatu kulit asal Surabaya) setelah itu kita siapkan bentuk pisau potong atau pisau pond, lalu diseset (ditipiskan), kemudian perekatan, lalu penandaan jahitan, membuat lajur, lalu jahit, lalu menipiskan pinggir kulit, lalu finishing dengan krim dan emboss (pemberian brand timbul),” terangnya.
Menurutnya, praktik para siswa cenderung makan biaya banyak karena bahan dasar mahal, sehingga perlu kerja sama dengan industri yang bisa menyediakan kulit.
“Ada beberapa brand lokal Revolt Industry, Verne Industry. Yang baru full (penuh dikerjakan siswa) baru Jim Joker. Yang lain baru kerja sama pemagangan dan penerimaan pegawai atau karyawan yang terserap,” imbuhnya.
Selama ini, sambungnya, penjualan karya kriya kulit buatan siswa hanya mengandalkan pameran rutin setiap bulan dan setahun sekali yang ada di Sekolah. Namun hanya terjual sedikit.
BACA JUGA:
Kerajinan Kediri Ramaikan Jakarta Inacraft 2023
“Sebulan paling tiga sampai empat produk aja. Kalau event tahunan banyak. Jadi kita butuh banget industri. Banyak hal yang harus diperbaiki dari dunia pendidikan. Termasuk penyelarasan dengan dunia industri dan usaha,” ujar dia.
“Karena industri lebih tahu produk yang laku dan gak. Jadi kita bisa tahu buat produk yang dibutuhkan pasar. Selama ini kita bisanya mendesain kadang tidak terlalu ngerti pasaran yang lagi dicari,” pungkas dia. [asg/but]






