Jember (beritajatim.com) – Kabupaten Jember, Jawa Timur, saat ini memiliki posisi strategis dalam bisnis tembakau cerutu di Indonesia. Tembakau cerutu menumbuhkan harapan untuk dikembangkan sebagai sektor unggulan berdaya saing tinggi.
“Jember adalah satu-satunya di Indonesia, bahkan mungkin sampai sekarang, yang produknya secara turun-temurun nyambung sampai luar negeri,” kata Imam Hidayat, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Pemerintah Provinsi Jawa Timur, dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan Rencana Kerja Pemerintah Daerah Tahun 2027, di Pendapa Wahyawibawagraha, Senin (9/3/2026).
“Tembakau Jember mungkin adalah tembakau untuk cerutu yang saat ini masih bertahan. Saingannya dulu Deli Serdang, Sumatera Utara. Apa yang terjadi? Sekarang, Deli sudah habis. Tinggal Jember jadi pemain kunci, pemain tunggal,” kata Imam.
Posisi Jember dalam bisnis tembakau cerutu ini, menurut Imam, perlu dipertahankan dan dikembangkan. “Karena Jember melakukan itu tidak dalam waktu satu dua tahun, itu puluhan, bahkan mungkin ratusan tahun yang lalu,” katanya.
Namun Imam juga mengingatkan perlunya peningkatan kualitas sumber daya manusia pada sektor jasa pendidikan, jasa kesehatan, kegiatan sosial serta administrasi pemerintahan. “Pendidikan menjadi suatu kunci, bagaimana kemudian akan mempengaruhi Indeks Pembangunan Manusia,” katanya.
Kabupaten Jember memiliki banyak lembaga pendidikan perguruan tinggi negeri maupun swasta. “Ini sebetulnya aset untuk memberikan masukan, hasil risetnya untuk kemajuan pembangunan di Kabupaten Jember,” kata Imam.
Berikutnya, lanjut Imam, perlu adanya dorongan terhadap investasi pada sektor industri pengolahan, konstruksi, dan perdagangan. “Industri berbasis pertanian, industri berbasis kelautan, bahkan industri pariwisata ini menjadi suatu keniscayaan untuk dikembangkan di masa yang akan datang,” katanya.
“Kemudian penguatan keterkaitan antara sektor, bagaimana transformasi agroindustri, digitalisasi ekonomi daerah, serta peningkatan kualitas infrastruktur dasar dan konektivitas wilayah,” kata Imam.
Imam memahami bahwa masalah keterbatasan anggaran menjadi tantangan. “Kita tahu tidak hanya Jember, provinsi dan lainnya sekarang ini boleh dikatakan agak megap-megap karena terbatasnya anggaran,” katanya.
Namun keterbatasan anggaran ini, menurut Imam bisa diatasi dengan kerja sama yang baik di antara pemangku kepentingan dan kebijakan, terutama badan usaha milik negara, badan usaha milik daerah, dan Bank Indonesia.
“Saya percaya Jember ini orangnya dinamis. Jadi, akalnya juga banyak. Bagaimana kemudian inovasi itu tetap harus berjalan, optimisme harus tetap berjalan. Karena kalau sudah optimisme hilang, ini lain persoalannya,” kata Imam.
“Tapi kalau umpamanya masih mempunyai inovasi dan kegiatan yang betul-betul bisa mengungkit, menjadi leverage factor yang penentu, saya rasa ini bisa kita atasi semua,” kata Imam.
Imam hanya berpesan Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kabupaten Jember dirumuskan dengan memperhatikan prioritas yang mempunyai nilai strategis tinggi. “Ini memang harus dirancang secermat dan seefisien mungkin,” katanya.
Menurut Imam, pelibatan organisasi kemasyarakatan pemuda, organisasi keagamaan, dan perguruan tinggi untuk memberikan masukan komprehensif dan konstruktif dalam penyusunan RKPD adalah sebuah keniscayaan. [wir]






