RINGKASAN BERITA:
PPIH mengimbau jemaah proaktif mengendalikan penyakit penyerta (komorbid) guna menjaga kebugaran fisik.
Jemaah diminta tidak memaksakan diri dalam beraktivitas demi menghindari kelelahan yang memicu gangguan kesehatan.
Fokus penanganan medis diarahkan pada pengendalian tekanan darah tinggi, penyakit jantung, dan diabetes.
Disiplin asupan cairan menjadi kunci utama menghadapi cuaca panas Makkah yang mencapai suhu 40 derajat Celsius.
Makkah (beritajatim.com) – Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi mengimbau jemaah haji Indonesia untuk proaktif mengendalikan penyakit penyerta (komorbid) dan menghindari kelelahan fisik guna memastikan kelancaran ibadah hingga puncak haji 2026. Adaptasi fisik dan pengaturan tenaga menjadi faktor krusial mengingat jemaah kini dihadapkan pada fluktuasi cuaca ekstrem di Kota Suci Makkah.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, hingga Minggu (10/5/2026), sebanyak 125.243 jemaah telah diberangkatkan ke Tanah Suci. Di tengah suhu udara yang menyentuh angka 40 derajat Celsius, disiplin kesehatan menjadi benteng utama jemaah sebelum memasuki fase berat di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
Kepala Seksi Kesehatan Daker Makkah PPIH Arab Saudi, Edi Supriyatna, menekankan bahwa jemaah harus mampu mengukur kapasitas diri dan tidak memforsir tenaga untuk aktivitas sunnah yang berlebihan.
“Harapannya kita menyesuaikan dengan situasi di sini. Artinya, jangan memaksa tenaga sampai kita lelah. Karena kalau sudah lelah, akan terjadi gangguan kesehatan yang berakibat tidak bisa melakukan ibadah dengan baik,” ujar Edi di Makkah, Minggu (10/5/2026).
Bagi jemaah haji Gelombang II yang baru tiba di Makkah melalui Jeddah, tim kesehatan memberikan perhatian khusus pada pemetaan penyakit bawaan dari tanah air. Fokus utama ditujukan pada pengendalian tekanan darah tinggi, penyakit jantung, dan diabetes agar tetap dalam kondisi stabil.
Edi memaparkan bahwa kedisiplinan jemaah dalam meminum obat sesuai anjuran dokter dan menjaga pola istirahat adalah langkah preventif terbaik. Hal ini dilakukan agar komorbid tersebut tidak kambuh atau memburuk akibat stres perjalanan panjang maupun perubahan lingkungan yang drastis setibanya di pemondokan.
Sementara itu, bagi jemaah Gelombang I yang telah bergeser dari Madinah, tantangan utama yang dihadapi adalah proses pemulihan fisik pasca-aktivitas sembilan hari di Kota Nabi. Meskipun mereka dinilai sudah mulai beradaptasi dengan lingkungan Arab Saudi, potensi gangguan kesehatan akibat faktor cuaca tetap tinggi.
Edi mengingatkan bahwa perbedaan suhu yang mencolok serta udara kering dapat memicu dehidrasi akut dan kelelahan kronis. Hingga saat ini, data mencatat total jemaah wafat telah mencapai 23 orang, dengan mayoritas penyebab kematian terkait penyumbatan pembuluh darah jantung dan radang paru-paru yang diperberat oleh kelelahan.
Oleh karena itu, PPIH meminta jemaah untuk senantiasa menjaga keseimbangan antara aktivitas ibadah dan waktu istirahat. Jemaah diimbau untuk disiplin mengonsumsi air putih tanpa menunggu haus dan memanfaatkan waktu luang untuk memulihkan stamina di hotel masing-masing, terutama pada jam-jam puncak panas antara pukul 11.00 hingga 16.00 WAS. [ian/MCH]






