RINGKASAN BERITA:
- Sebanyak 146.622 jemaah haji Indonesia dari 379 kloter telah diberangkatkan menuju Arab Saudi hingga hari ke-23.
- Jemaah gelombang kedua yang mendarat di Jeddah wajib mengenakan kain ihram sejak dari embarkasi di tanah air.
- Kemenhaj menginstruksikan jemaah untuk menyimpan energi dan membatasi aktivitas fisik menjelang puncak Armuzna.
- Disiplin kesehatan tetap menjadi prioritas utama dengan anjuran hidrasi rutin 200 ml air per jam di tengah cuaca panas.
Makkah (beritajatim.com) – Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Republik Indonesia menginstruksikan seluruh jemaah haji gelombang kedua untuk mengenakan pakaian ihram sejak dari embarkasi guna memastikan kelancaran prosesi miqat sebelum mendarat di Jeddah. Instruksi ini dikeluarkan seiring meningkatnya kepadatan operasional pada hari ke-23, di mana tercatat sebanyak 146.622 jemaah haji Indonesia telah mendarat di Arab Saudi hingga Rabu (13/5/2026).
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Center Haji (MCH) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, pergerakan jemaah dari Madinah menuju Makkah serta kedatangan langsung dari tanah air ke Jeddah kini memasuki fase krusial. Hingga saat ini, sebanyak 120.507 jemaah telah terkonsentrasi di Makkah untuk mempersiapkan diri menghadapi puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
Juru Bicara Kemenhaj, Maria Assegaff, menegaskan bahwa jemaah gelombang kedua yang mendarat di Bandara King Abdul Aziz International Airport (KAAIA) Jeddah harus sudah dalam kondisi siap berihram. Hal ini dilakukan karena durasi perjalanan dari Jeddah menuju Makkah tidak menyisakan banyak waktu untuk berganti pakaian di bandara.
“Jemaah gelombang kedua harus memastikan pakaian ihram sudah digunakan dengan benar sebelum melewati miqat. Niat ihram dilakukan sesuai arahan pembimbing ibadah dan petugas kloter. Pahami kembali larangan-larangan ihram, jaga ketertiban selama perjalanan, dan ikuti seluruh arahan petugas sejak di embarkasi hingga tiba di Makkah,” ujar Maria dalam keterangan resminya.
Hingga Rabu sore, data operasional mencatat sudah ada 103 kloter dengan 39.388 jemaah gelombang kedua yang tiba melalui Jeddah. Kemenhaj meminta jemaah yang masih ragu terkait tata cara niat dan larangan ihram untuk segera berkonsultasi dengan pembimbing ibadah guna memastikan keabsahan ibadah mereka.
Selain kedisiplinan ibadah, Kemenhaj memberikan peringatan keras terkait manajemen kelelahan. Mengingat suhu di Makkah yang tetap menyengat di kisaran 38 hingga 42 derajat Celsius, jemaah dilarang memforsir tenaga untuk aktivitas sunnah yang berlebihan di luar hotel, terutama pada siang hari.
“Jemaah perlu mulai menyimpan energi, membatasi aktivitas yang tidak mendesak, dan tidak memaksakan diri beraktivitas di luar hotel, terutama pada siang hari,” tegas Maria. Ia menambahkan bahwa fase puncak haji membutuhkan ketahanan fisik yang prima, sehingga istirahat yang cukup dan makan tepat waktu menjadi kewajiban bagi setiap jemaah.
Menyambung edukasi kesehatan sebelumnya, jemaah tetap diwajibkan melakukan hidrasi secara rutin. Sesuai standar medis PPIH, jemaah diminta meminum setidaknya 200 mililiter air per jam secara perlahan dan menambahkan elektrolit untuk mengganti garam mineral yang hilang akibat kelembapan rendah.
“Jangan menunggu kondisi memburuk. Jika jemaah merasa lemah, pusing, sesak, demam, atau mengalami keluhan lain, segera sampaikan kepada petugas terdekat. Khusus bagi jemaah lansia, disabilitas, dan jemaah dengan risiko tinggi, koordinasi dengan karom, karu, petugas kesehatan, dan petugas sektor harus terus dijaga,” jelas Maria.
Layanan kesehatan melalui KKHI dan klinik satelit di setiap sektor dilaporkan terus bersiaga 24 jam. Bagi jemaah asal Jawa Timur, seperti dari Embarkasi Surabaya (SUB) yang mendominasi kloter-kloter saat ini, petugas sektor 1 dan sekitarnya terus melakukan visitasi rutin ke kamar-kamar hotel untuk memastikan kondisi jemaah risiko tinggi tetap terpantau dengan baik. [ian/MCH]






