Surabaya (beritajatim.com) – Pangkalan Gas Elpiji di Jalan Ambengan, Surabaya mengaku kebanjiran permintaan menjelang kenaikan harga gas 3 kg, dan menyebabkan kelangkaan pasokan.
Pemilik Pangkalan Gas Elpigi, Mochammad Rivqi Yogianto Amirullah mengatakan, kelangkaan dan banyaknya permintaan gas 3 kg di tempatnya itu sudah terjadi sejak akhir Desember 2024, sampai sekarang.
“Kelangkaan gas baru baru ini sekitar akhir bulan Desember 2024, kita lumayan sering menegur ke pihak agen,” ungkap Mochammad Rivqi Yogianto Amirullah alias Yogi saat ditemui beritajatim.com, pada Selasa (14/1/2025) siang.
Yogi menjelaskan bahwa kelangkaan gas 3 kg ini akibat dari kosongnya tabung gas di kantor agen. Dirinya tidak tahu, apakah hal ini ada hubungannya dengan arah kebijakan Pemerintah Provinsi Jawa Timur yang menaikan HET tabung gas elpigi 3 kg menjadi Rp18 ribu, mulai besok 15 Januari.
“Saya tidak tahu apakah ini ada hubungan dengan kebijakan tersebut. Tapi dari pihak agen menyebutkan belakangan ini tabung banyak yang kosong, susah. Jadi dari agen ada jeda beberapa hari telat untuk melakukan pengiriman,” rinci Yogi.
Dia juga menambahkan, kalau di saat yang sama pangkalan gas miliknya ini dibanjiri oleh pembeli. Bahkan mengalami peningkatan laba, 60 sampai 70 persen.
“Kalau hari biasanya itu sehari terjual 50 – 70 biji. Namun ini sekarang bisa terjual 100 lebih. Untuk itu di pangkalan kami sering kehabisan stok,” ujar Yogi.
Sedangkan menanggapi dampak kenaikan harga gas elpigi 3 kg mulai 15 Januari 2025 besok, Yogi mengaku tidak masalah. Kata dia, ia akan menyesuaikan margin jual dan menambah modal usaha.
“Mulai besok kita sudah melakukan penyesuaian harga baru. Kita akan menyampaikan perubahan harga ini ke pelanggan yang datang dan mungkin beberapa kita infokan lewat telepon,” tutup Pemilik Pangkalan Gas Elpiji, di Jalan Ambengan itu. (rma/ted)






