Mojokerto (beritajatim.com) – Jelang libur Lebaran, pesanan kacang mente di Desa Wonosari, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur membludak. Desa Wonosari memang dikenal sebagai pusatnya oleh-oleh kacang mente, yang merupakan salah satu komoditas unggulan Mojokerto.
Seperti dituturkan Muhammad Ilyas (36). Pemilik usaha kacang mente merek Lumbung Mojopahit ini mengaku kebanjiran pesanan di Bulan Ramadhan 1445 Hijriah/2024 Masehi ini. Permintaan kacang mente di tempatnya naik 25 persen dibandingkan Ramadhan 2023 lalu.
“Dua minggu sebelum puasa sudah ada kenaikan. Dari 30-40 kg per minggu naik menjadi 200 kg per minggu, sekarang per hari 50 kg. Sampai sekarang sudah habis 2 ton, mendekati Lebaran permintaan biasanya terus naik. Harga minyak naik, tidak begitu pengaruh karena tidak butuh banyak minyak seperti goreng kacang,” ungkapnya, Senin (24/3/2024).
Bapak dua anak ini mengaku tak kesulitan mendapatkan bahan dasar kacang mente. Sebab, dia sudah memiliki hubungan dengan beberapa pengepul kacang mente yang siap untuk memenuhi permintaan.
Pengepul tersebut memang dari luar Desa Wonosari. Sebab, menurut Ilyas, jika mengandalkan kacang mente dari Desa Wonosari sendiri tidak bisa memenuhi banyaknya permintaan.
“Kalau dari Wonosari sendiri nggak ngatasi (tidak mencukupi permintaan). Karena banyak pohon jambu mente yang ditebang juga di sini, ditambah di Wonosari ada sekitar 10-15 orang yang juga bergelut di usaha ini. Dulu banyak tapi sekarang berkurang lahan untuk tanaman jambu monyet di sini,” katanya.
Meski diakui, kacang mente dari Desa Wonosari terkenal memiliki kualitas unggul dan cita rasa yang khas. Saat mentah, kacang mente dari Desa Wonosari dijual dengan harga Rp150 ribu sampai Rp160 ribu per kg. Untuk siap saji atau sudah digoreng, menurutnya cukup kesulitan didapat.
“Saya ambil dari Madura karena kacang mente dari sana enak juga. Jawa Timur selain Madura, ada Situbondo tapi masih banyakan Madura. Kalau saya ada dua macam, biasa sama super jumbo. Harga yang biasa Rp150 ribu-Rp160 ribu per kg, untuk super jumbo Rp170 ribu-Rp180 ribu per kg, sudah goreng,” jelasnya.
Sementara untuk rasa, ia menyediakan tiga rasa yakni original, pedas manis aroma daun jeruk dan rasa madu. Menurutnya, permintaan lebih banyak di jenis biasa dengan rasa original. Ia mengaku tidak membatasi p9esanan meski Lebaran, permintaan tetap dilayani selama stok kacang mente masih ada.
“Lebaran masih banyak yang cari oleh-oleh, setelah Sholat Ied kalau kehabisan saya masih goreng. Tidak (stop pesanan). Rata-rata pelanggan di saya itu tenggulak, dijual lagi. Ada (masyarakat biasa) tapi tidak banyak, yang banyak tenggulak. Sekali pesan bisa dus-dusan, 4 lusin berarti 48 toples atau sekitar 25 kg,” ujarnya.
Tenggulak biasanya datang ke tempatnya setiap tiga hari sekali, terbanyak datang dari wilayah Malang. Selain menjual dalam kemasan 1 kg, ia juga menjual dalam kemasan 1/2 kg dan 1/4 kg. Ini untuk memenuhi permintaan masyarakat sehingga ia juga membuka toko di rumahnya.
“Iya bisa (datang langsung ke toko). Untuk permintaan, kayaknya melonjaknya Ramadhan tahun ini. Saya stok, satu bulan sebelum Ramadhan. Sebelum Ramadhan itu, orang buat arisan, mentah (belum digoreng) yang jalan. Masuk Ramadhan mulai goreng, dua hari sekali. Masuk 10 hari Ramadhan, tiap hari goreng,” tuturnya.
Menurutnya, ada kenaikan hingga 25 persen dibanding Ramadhan tahun 2023 lalu. Sementara untuk harga, lanjutnya, naik Rp10 ribu per kg dibanding tahun sebelumnya. Kacang mente produksinya dalam kondisi mentah bisa tahan sampai enam bulan. Sementara kacang mente goreng bisa tahan sampai 1,5 bulan. [tin/beq]







