Surabaya (beritajatim.com) – Hidup kadang seperti bola liar di lapangan tanah desa. Arahnya tak selalu lurus, tapi jika dimainkan dengan sabar, hasilnya bisa mengejutkan. Bagi Sukadiono, anak Desa Njuwet, Tembelang, Jombang, filosofi itu bukan sekadar metafora.
“Hidup adalah perjuangan tanpa henti-henti, usah kau menangisi hari kemarin,” ujar lirik Dewa 19 yang seakan menjadi motto hidupnya.
Dulu, Suko—begitu teman-temannya memanggilnya—memiliki dua mimpi sederhana. Menjadi insinyur di ITB dan bermain sepak bola. Tapi jalan hidupnya berbelok setelah ayahnya, mantan pemain bola, menyarankan kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga.
Alih-alih patah semangat, Suko justru menemukan dunia baru. Di Unair, ia tidak hanya belajar ilmu kedokteran, tapi juga menumbuhkan kemampuan kepemimpinan. Sejak 1996, ia dipercaya memimpin Takmir Masjid Jenderal Sudirman Darmawangsa, Surabaya, tanggung jawab yang mengasah ketekunan dan kepedulian sosialnya.
Setelah menjadi dokter, Suko terus mengasah diri. Gelar Magister Manajemen dan Doktor Ilmu Keolahragaan cumlaude dari Universitas Negeri Surabaya membukakan jalan untuk menggabungkan dunia medis, manajemen, dan olahraga. Tiga bidang yang kelak menjadi kepakarannya.
Kariernya dimulai dari poliklinik dan klinik, lalu memimpin Akademi Keperawatan dan Akademi Analis Kesehatan UM Surabaya pada 2001. Setahun kemudian, ia menakhodai Rumah Sakit Muhammadiyah Surabaya.
Ketekunan dan kemampuan manajerial itu membawanya menjadi Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan (2005-2012), hingga akhirnya Rektor UM Surabaya selama tiga periode (2012-2024).
Di bawah kepemimpinannya, UM Surabaya berkembang pesat. Salah satu gebrakannya adalah kemitraan dengan Persebaya, yang membuat kampus terasa seperti rumah kedua bagi atlet muda sekaligus memperkuat ekosistem olahraga.
Tak lama setelah lengser sebagai rektor, Suko dikukuhkan sebagai Guru Besar Fisiologi Olahraga UM Surabaya. Dalam orasinya, ia memaparkan intervensi sodium bicarbonate untuk menunda kelelahan otot pada olahraga berintensitas tinggi.
“Dengan cara ini, atlet dapat mempertahankan intensitas latihan lebih lama dan memulihkan tenaga lebih cepat,” ujarnya, Sabtu (23/8/2025).
Kini, selain aktif sebagai Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur, Suko juga menjabat Deputi II Bidang Peningkatan Kualitas Kesehatan Kemenko PMK. Kisahnya ini membuktikan bahwa perjuangan tidak selalu lurus, tapi setiap langkah yang diambil dengan tekun akan memberi manfaat bagi banyak orang. [ipl/kun]






