Surabaya (beritajatim.com) – Universitas Muhammadiyah (UM) Surabaya mengukuhkan Guru Besar Bidang Ilmu Keperawatan Prof A. Aziz Alimul Hidayat pada Sabtu (30/9/2023) kemarin.
Dalam orasi ilmiahnya berjudul ‘Transformasi Pendidikan Keperawatan di Era Society 5.0’, Prof Aziz mengatakan bahwa perubahan dalam pelayanan keperawatan di era 5.0 lebih fokus pada aktifitas berbasis modern.
“Lebih fokus pada konteks manusia yang memungkinkan dalam aktivitas menggunakan ilmu pengetahuan berbasis modern (AI, Robot, IoT) untuk kebutuhan, agar dapat hidup secara nyaman, manusia sebagai komponen utamanya,” jelasnya, ditulis Minggu (1/10/2023).
Baca Juga: Kemarau Panjang Munculkan Area Makam di Dasar Waduk Bendo Ponorogo
Menurutnya, era society 5.0 internet tidak hanya digunakan sumber informasi, tapi dipakai untuk menjalani kehidupan, termasuk manusia diharapkan mampu menciptakan nilai baru melalui perkembangan teknologi.
Dalam penelitiannya, Prof Aziz mengembangkan model sistem mutu yang merupakan pengembangan dan modifikasi dari model sistem mutu Malcolm Baldrige. Pertama, dengan rekonstruksi kurikulum yang berorientasi pada OBE (Outcome base education).
Menurutnya, dengan berbasis skill masa depan perawat seperti: skill komunikasi, berpikir kritis/kreatif untuk problem solving, tentu ini akan meningkatkan kemampuan dalam analysis, synthesis, evaluation, decision making, dan creative thinking, colaborasi & adaptif thinking.
Baca Juga: Satgas Anti Mafia Bola PSII Disebut Akal-akalan, Erick Thohir: Sekarang Kita Bawa Publik Figur
“Skill teknologi yang meliputi computer literacy, internet skill, dan mengambil dan mengelola informasi melalui teknologi dan skill keperawatan itu sendiri, termasuk di dalamnya terdapat skill interpersonal, personal, dimana diharapkan lulusan mampu membangun teamwork, membangun hubungan, manajemen konflik, manajemen perubahan, responsiveness, dan perilaku caring,” katanya.
Kedua, penataan sistem pembelajaran berbasis teknologi Informasi. Penataan sistem tersebut dengan menggunakan model Blended Learning dengan pendekatan Contextual Teaching learning, Problem based Learning dan Project Based Learning.
“Pengembangan blended learning merupakan bagian dari pengembangan pembelajaran karena di dalamnya terdapat proses yang sistematis untuk mencapai tujuan pembelajaran, mulai dari identifikasi masalah, pengembangan strategi dan pengembangan bahan ajar, serta evaluasi bahan ajar,” jelas Prof Aziz.
Baca Juga: PDHI Jatim 2 Lakukan Sterilisasi Massal Kucing Jantan Demi Kendalikan Populasi
Ketiga, integrasi sistem pendidikan dan pelayanan keperawatan adalah bagian dari link and match dunia industri kesehatan. Sehingga, diharapkan ada relevansi antara institusi sebagai pencetak lulusan dengan industri yang membutuhkan tenaga kerja sesuai bidang keahlian.
“Dari ketiga upaya dan solusi dalam menyelesaikan masalah itu, perlu digunakan prinsip kerja menggunakan pola ADLI, A=Approach (pendekatan), D=deployment (penyebarluasan), L=learning (pembelajaran) dan I=integrasi dalam mengukur, mengevaluasi serta dalam menjalankan upaya tersebut,” bebernya.
Menurutnya dengan demikian ketiga upaya tersebut tentu dapat melakukan transformasi pendidikan keperawatan di era Society 5.0 yang dapat memberikan kontribusi pada kualitas perawat-perawat baru yang dihasilkan dari institusi pendidikan keperawatann dan akhirnya dapat meningkatkan kualitas pelayanan keperawatan di tatatan pelayanan kesehatan atau industri kesehatan. [ipl/ian]






