Gresik (beritajatim.com)- Bandara Juanda Surabaya menjadi saksi pertemuan yang tertunda bertahun-tahun. Pelukan, tangis, dan doa bercampur ketika tiga anak Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Kabupaten Gresik akhirnya kembali menjejak tanah kelahiran orang tuanya. Mereka pulang bukan sekadar membawa koper, tetapi juga kisah panjang tentang jarak, rindu, dan perjuangan hidup di negeri orang.
Kepulangan ketiga anak tersebut mendapat perhatian langsung dari Pemkab Gresik. Sejak dari luar negeri hingga tiba dengan selamat di Indonesia, dan untuk memastikan perjalanan mereka aman, bermartabat, dan penuh perlindungan.
Tiga anak PMI yang dipulangkan yakni MI (12) dan SY (8) asal Desa Golokan, Kecamatan Sidayu, serta HA (11) dari Desa Siwalan, Kecamatan Panceng. Mereka kini telah diserahkan kepada keluarga masing-masing dengan pendampingan pemerintah daerah.
Rasa haru tak bisa disembunyikan oleh Siti Khotimah (50), orang tua HA. Dirinya mengaku tak pernah membayangkan momen kepulangan anaknya akan diantar langsung oleh kepala daerah.
“Alhamdulillah, senang sekali. Tidak menyangka anak saya bisa pulang,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca, Selasa (10/2/2026).
Bagi ketiga anak tersebut, ini adalah kali pertama menyentuh kampung halaman yang selama ini hanya hidup dalam cerita. Nama desa, sawah, dan keluarga besar yang kerap disebut orang tua, kini hadir nyata di depan mata. Kepulangan ini tidak berhenti sebagai seremoni, tetapi menjadi awal baru bagi masa depan mereka.
Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani menuturkan, pemulangan ini merupakan tindak lanjut kerja sama antara Pemda Gresik dengan KBRI Kuala Lumpur. Terdapat tujuh wilayah kantong PMI di Gresik, yakni Kecamatan Panceng, Ujungpangkah, Sidayu, Dukun, Manyar, serta Pulau Bawean (Sangkapura dan Tambak).
“Kami hadir untuk memastikan pelayanan publik benar-benar menyentuh keluarga PMI, terutama anak-anak mereka,” tuturnya.
Bupati yang akrab dipanggil Gus Yani in menjelaskan fokus utama pemerintah daerah ke depan adalah memastikan anak-anak PMI mendapatkan pendidikan formal yang layak di tanah air. Mulai dari pencatatan administrasi kependudukan oleh Dispendukcapil, pemenuhan hak kesehatan dan sosial, hingga integrasi ke sistem pendidikan nasional. Sebab, selama berada di luar negeri, sebagian anak PMI hanya mengenyam pendidikan nonformal berbasis komunitas.
“Ini belum akhir. Masih ada anak-anak PMI lain yang menunggu kepastian. Pemerintah daerah akan terus berkoordinasi dengan KBRI Kuala Lumpur agar negara benar-benar hadir, bukan hanya saat warganya bekerja di luar negeri, tetapi juga saat keluarganya membutuhkan perlindungan dan masa depan,” ungkapnya.
Setibanya di Gresik, ketiga anak disambut oleh jajaran Dinas KBPPPA bersama OPD terkait, pemerintah kecamatan, dan perangkat desa. Tahap berikutnya difokuskan pada pendampingan psikososial dan konseling, mengingat mereka lahir dan tumbuh besar di luar negeri dengan lingkungan budaya yang berbeda.
“Anak-anak tidak boleh membayar mahal harga dari jarak dan migrasi. Mereka harus kembali dengan aman, dilindungi, dan diberi kepastian hidup yang lebih baik,” pungkas Gus Yani.
Sebagai informasi, Kabupaten Gresik memiliki sekitar 5.700 PMI yang tersebar di berbagai kecamatan. Secara bertahap
anak-anak tanpa dokumen administrasi tersebut akan dipulangkan ke tanah air. [dny/aje]






