Surabaya (beritajatim.com) – Provinsi Jawa Timur menempati peringkat pertama nasional dalam implementasi ekonomi hijau dan transisi energi berkelanjutan. Penghargaan tersebut diserahkan langsung oleh Menteri Perindustrian Republik Indonesia Agus Gumiwang Kartasasmita kepada Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dalam sebuah acara resmi di Jakarta, Rabu (20/8/2025).
Prestasi ini menegaskan bahwa Jawa Timur menjadi provinsi yang dianggap paling progresif dalam mendorong pembangunan ramah lingkungan sekaligus menjaga daya saing industri. Selama dua tahun terakhir, provinsi ini dinilai berhasil menghadirkan kebijakan yang konsisten dalam menekan emisi karbon, memperluas pemanfaatan energi terbarukan, serta membangun kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat ekosistem hijau.
“Penghargaan ini merupakan bukti kerja bersama seluruh elemen, baik pemerintah, pelaku usaha, akademisi, maupun masyarakat yang konsisten menempatkan keberlanjutan sebagai prioritas. Capaian ini juga menjadi motivasi bagi kami untuk terus mempercepat transisi energi hijau agar manfaatnya bisa langsung dirasakan masyarakat,” ujar Khofifah dalam sambutannya.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam kesempatan yang sama menyampaikan bahwa Jawa Timur layak menempati posisi teratas karena mampu menghadirkan model pertumbuhan ekonomi berbasis inovasi hijau. Menurutnya, strategi ini sangat relevan dengan kebutuhan dunia industri yang dituntut semakin efisien dan ramah lingkungan. “Kinerja Jawa Timur bisa menjadi role model bagi daerah lain, khususnya dalam penerapan efisiensi energi, pemanfaatan energi terbarukan, hingga pengelolaan limbah industri yang lebih berkelanjutan,” kata Agus.
Data dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Timur mencatat, sepanjang tahun 2024–2025, lebih dari 60 persen kawasan industri di provinsi ini telah menerapkan standar produksi rendah karbon. Beberapa kawasan industri bahkan sudah mengintegrasikan energi surya dan biomassa dalam operasionalnya. Selain itu, konsumsi energi bersih di sektor industri juga meningkat signifikan berkat adanya kerja sama antara pemerintah daerah dan perusahaan penyedia energi terbarukan.
Program ekonomi hijau yang digerakkan Pemerintah Provinsi Jawa Timur juga turut memperhatikan sektor kecil dan menengah. Melalui pendampingan dan insentif, para pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) didorong untuk menggunakan teknologi hemat energi dan bahan baku ramah lingkungan. Hal ini diharapkan bisa menjadi langkah konkret agar pertumbuhan ekonomi hijau tidak hanya berpusat di sektor industri besar, tetapi juga menjangkau ekonomi kerakyatan.
Khofifah menegaskan bahwa capaian ini bukan sekadar penghargaan, melainkan komitmen jangka panjang. Ia menyebutkan, arah kebijakan Jawa Timur ke depan akan semakin fokus pada keseimbangan antara pembangunan ekonomi dan kelestarian lingkungan. “Kami ingin memastikan ekonomi hijau memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, termasuk terbukanya lapangan kerja baru, terciptanya industri berbasis inovasi, dan peningkatan kualitas lingkungan hidup yang lebih sehat,” ujarnya.
Sejumlah kalangan akademisi menilai keberhasilan Jawa Timur menempati peringkat pertama implementasi ekonomi hijau tak lepas dari keberanian pemerintah provinsi dalam menerapkan kebijakan berbasis sains. Universitas-universitas di Jawa Timur dilibatkan dalam penelitian energi terbarukan, pengelolaan limbah, hingga strategi adaptasi perubahan iklim. Dengan begitu, kebijakan yang lahir bukan hanya bersifat administratif, tetapi benar-benar berbasis riset dan data.
Selain itu, kelompok masyarakat sipil yang bergerak di bidang lingkungan turut menyambut positif capaian ini. Mereka berharap penghargaan tersebut tidak berhenti pada seremoni, melainkan menjadi dorongan untuk memperluas gerakan hijau hingga ke level desa dan kampung. Kolaborasi lintas sektor inilah yang menurut banyak pihak menjadi kekuatan utama Jawa Timur sehingga mampu menempati posisi terdepan.
Dengan pengakuan dari pemerintah pusat ini, Jawa Timur diharapkan semakin memperkuat posisinya sebagai pusat industri hijau nasional sekaligus destinasi investasi yang berorientasi pada keberlanjutan. Pemerintah provinsi menargetkan peningkatan kontribusi energi terbarukan hingga 30 persen dari total kebutuhan energi di Jawa Timur pada 2030, sejalan dengan komitmen transisi energi global. [tok/beq]






