Surabaya (beritajatim.com) – Kabinet Merah Putih yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto memasang target yang prestisius. Yakni di 2028 mendatang, Indonesia harus menjadi negara dengan kedaulatan pangan penuh melalui swasembada pangan. APBN untuk sektor pertanian pada 2025 pun ditambah menjadi Rp139,4 triliun dari 2024 sebesar Rp114 triliun. Lalu bagaimana kesiapan Jawa Timur yang dikenal dengan lumbung padinya Indonesia?.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa produksi padi di Jawa Timur pada 2024 ini diperkirakan sebesar 9,23 juta ton gabah kering giling (GKG). Angka ini mengalami penurunan sebanyak 484,32 ribu ton GKG atau 4,99 persen dibandingkan produksi padi di 2023 yang sebesar 9,71 juta ton GKG.
Jika dikonversikan menjadi beras, produksi di 2023 mencapai sekitar 5,61 juta ton, atau naik sebesar 106,33 ribu ton (1,93 persen) dibandingkan dengan produksi beras 2022. Sedangkan di 2022, produksi beras mencapai lebih 9.526.516 ton, menyumbang sekitar 17,4 persen dari total kapasitas produksi padi nasional.

Di tahun ini ada tiga kabupaten/kota dengan total produksi padi (GKG) tertinggi. Ketiganya adalah Kabupaten Lamongan, Kabupaten Ngawi, dan Kabupaten Bojonegoro.
“Ketiga daerah ini memiliki lahan pertanian yang luas dan subur serta didukung oleh infrastruktur pertanian yang memadai. Di sisi lain,juga ada 3 daerah yang mengalami peningkatan produksi padi cukup besar, misalnya Kabupaten Tuban, Kabupaten Pasuruan, dan Kabupaten Bondowoso Sementara itu, tiga kabupaten/ kota dengan produksi padi terendah yaitu Kota Mojokerto, Kota Blitar, dan Kota Batu,” ungkap Kepala BPS Jawa Timur Zulkipli. (lebih lengkap ditabel)

Dari data BPS tahun 2022, kontribusi produksi padi nasional Jatim ini diikuti Provinsi Jawa Barat (9.433.723 ton), dan Provinsi Jawa Tengah (9.356.445 ton). Ini menunjukkan produksi padi Jawa Timur memegang peranan penting dalam pencapaian program swasembada beras nasional.
Jagung Tumbuh Pesat, Komoditas Lain Masih Fluktuatif
Walaupun produksi komoditas tanaman pangan yang lain tidak sebanyak padi namun peningkatan produktivitasnya tetap perlu mendapat perhatian dari pemerintah. Upaya perbaikan yang dilakukan oleh pemerintah diharapkan mampu mencukupi kebutuhan akan tanaman pangan dari hasil dalam negeri sendiri dan mengurangi ketergantungan terhadap impor hasil pertanian luar negeri
Dalam buku Indikator Pertanian Jawa Timur 2022 yang diterbitkan Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim mengambarkan dalam kurun waktu lima tahun terakhir, tren produksi jagung mengalami peningkatan dari 6,78 juta ton di tahun 2018 menjadi 7,42 juta ton di tahun 2022. Pertumbuhan produksi komoditas jagung yang cukup signifikan terjadi pada 2019 dan 2022, berturut-turut sebesar 7,20 persen dan 5,77 persen.
Sama halnya dengan tahun sebelumnya, daerah penghasil jagung terbesar di Jawa Timur berada di Kabupaten Tuban (850.582 ton), diikuti Kabupaten Jember (502.769 ton), Kabupaten Sumenep (455.808 ton), Kabupaten Tulungagung (359.560 ton), dan Kabupaten Pasuruan (355.840 ton).
Pada tahun 2022, hanya komoditas jagung dan ubi jalar yang mengalami pertumbuhan positif dibanding tahun 2021 dengan pertumbuhan produksi berturut-turut senilai 5,77 persen dan 6,72 persen. Sebaliknya, produksi kedelai, kacang tanah, ubi kayu, dan kacang hijau justru mengalami penurunan dibanding tahun 2021.
Pertumbuhan negatif masing-masing komoditas dibanding tahun 2021 antara lain kedelai (4,05 persen), kacang tanah (0,32 persen); ubi kayu (15,09 persen), dan kacang hijau (32,26 persen). Daerah penghasil produksi kedelai terbanyak adalah Kabupaten Bojonegoro mencapai 19.696 ton, diikuti Kabupaten Lamongan (9.355 ton), dan Banyuwangi (7.554 ton). Produksi kacang tanah terbesar berada di Kabupaten Sampang yang mencapai 26.432 ton. Daerah penghasil kacang tanah tertinggi lainnya, yakni Kabupaten Bangkalan dan Tuban dengan masing-masing produksinya 22.131 ton dan 12.594 ton.
Produksi ubi jalar terbesar masih diduduki oleh Kabupaten Mojokerto sebesar 94.379 ton, diikuti oleh Kabupaten Magetan (55.903 ton) dan Kabupaten Ngawi (46.159 ton). Daerah penghasil ubi kayu terbesar berada di Kabupaten Ponorogo (242.408 ton), di tempat kedua Kabupaten Sumenep mengikuti dengan produksi ubi kayu sebesar 238.623 ton, lalu diikuti Kabupaten Pacitan dengan produksi sebesar 170.526 ton.
Meskipun menurun tetapi kacang hijau pun tak kalah potensialnya untuk Jatim. Tiga Kabupaten/Kota dengan produksi kacang hijau tertinggi berada di Kabupaten Sumenep (10.015 ton), Kabupaten Sampang (8.878 ton), dan Kabupaten Madiun (3.831 ton).
Meskipun produksi padi dan jagung terus meningkat, Jawa Timur masih menghadapi sejumlah tantangan dalam mencapai swasembada pangan. Perubahan iklim, serangan hama penyakit, serta fluktuasi harga komoditas menjadi beberapa kendala yang dihadapi petani.
Upaya Pemerintah untuk Memperkuat Ketahanan Pangan
Pemerintah Provinsi Jawa Timur telah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan produksi pangan, antara lain:
- Peningkatan Produktivitas: Pemerintah fokus pada peningkatan produktivitas lahan pertanian melalui penggunaan teknologi modern dan varietas unggul.
- Diversifikasi Komoditas: Upaya diversifikasi komoditas dilakukan untuk mengurangi ketergantungan pada satu komoditas saja.
- Penguatan Infrastruktur Pertanian: Pembangunan infrastruktur seperti irigasi, jalan desa, dan gudang penyimpanan hasil pertanian menjadi prioritas.
- Pemberdayaan Petani: Pemerintah memberikan berbagai pelatihan dan bantuan kepada petani untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mereka.
Jawa Timur telah menunjukkan komitmen yang kuat dalam menjaga ketahanan pangan nasional. Namun, masih banyak tantangan yang harus diatasi. Dengan upaya bersama, Jawa Timur dapat menjadi contoh bagi daerah lain dalam mencapai swasembada pangan. [rea/beq]






