Surabaya (beritajatim.com) – Provinsi Jawa Timur menjadi wilayah percontohan nasional pelaksanaan skrining kanker leher rahim berbasis HPV DNA dengan pendekatan model hub-and-spoke. Proyek ini menyasar lebih dari 5.500 perempuan di Surabaya dan Sidoarjo, dengan tujuan mendukung target Rencana Aksi Nasional Eliminasi Kanker Leher Rahim 2023–2030.
Kegiatan ini diinisiasi oleh Roche Indonesia, bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan, Jhpiego, dan Bio Farma. Sistem hub-and-spoke dipilih sebagai solusi untuk memperluas cakupan skrining, dengan model hub untuk wilayah urban menggunakan mesin PCR otomatis berkapasitas tinggi, serta spoke untuk daerah rural menggunakan mesin PCR manual.
Inovasi ini juga didukung metode pengambilan sampel mandiri (self-sampling) yang lebih nyaman dan minim stigma. “Tujuan proyek ini meningkatkan akses dan pencapaian skrining kanker serviks dengan model dan inovasi baru dalam menggunakan self samping,” ujar Country Director Jhpiego, Mary Jane Lacoste, Senin (23/6/2025).
Skrining mandiri ini bertujuan memudahkan perempuan mengakses layanan deteksi dini, mengurangi stigma, dan meningkatkan kesadaran bahwa hasil positif bukanlah akhir dari segalanya.
Tantangan dan Dukungan Daerah
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, drg. Sulvy Dwi Anggraini menyebut kanker serviks sebagai penyebab kematian nomor dua pada perempuan. Namun, cakupan skrining nasional baru menyentuh angka 9,35 persen dari target 75 persen.
Ia menekankan pentingnya skrining HPV DNA sebagai alternatif skrining IVA yang selama ini digunakan. “Sensitivitas PCR HPV DNA di atas 90 persen. Ini penting untuk deteksi dini lesi prakanker,” ujar Sulvy.

Ia juga mengungkapkan bahwa tantangan besar masih mencakup minimnya edukasi masyarakat, keterbatasan sarana, dan kapasitas tenaga kesehatan.
Dinas Kesehatan Jawa Timur juga mencatat bahwa Kota Surabaya dan Kabupaten Sidoarjo mewakili karakteristik urban dan rural. Surabaya dipilih karena kemudahan akses layanan dan kapasitas SDM kesehatan, sedangkan Sidoarjo menjalankan percontohan melalui Puskesmas Wonoayu. Laboratorium rujukan di Sidoarjo masih mengandalkan fasilitas Mojokerto, sambil menunggu kesiapan lokal.
Kolaborasi Multipihak
Head of Government and Market Access PT Roche Indonesia, Mita Rosalina menekankan bahwa perusahaannya tak hanya menyediakan perangkat diagnostik, tetapi juga mendukung pembangunan model layanan yang terintegrasi dari hulu ke hilir.
“Kami mengembangkan proyek ini dari edukasi masyarakat, sistem laboratorium, alur pelaporan, hingga kegiatan thermal ablasi. Tentunya ini akan bisa dijalankan untuk skala nasional,” ujar Mita.
Ia menyebut Wakil Menteri Kesehatan telah memberi apresiasi dan menyampaikan dukungan untuk menjadikan Surabaya dan Jawa Timur sebagai pionir wilayah bebas kanker serviks.
Harapan Perluasan Program
Kepala Dinas Kesehatan Kota Surabaya, Nanik Sukristina menyatakan kesiapan kota dalam mendukung deteksi dini dan memperluas jangkauan vaksinasi HPV, terutama bagi perempuan usia mandiri yang saat ini belum masuk program vaksin gratis nasional.
“Kami menyambut baik. Ini bisa menjadikan masyarakat tahu lebih awal dan bisa menekan angka kanker serviks. Harapannya vaksinasi bisa diperluas dan difasilitasi,” ungkapnya.
Dari evaluasi yang akan dilakukan pada Desember 2025, diharapkan proyek ini mampu memberikan data epidemiologis kuat tentang positive rate, efektivitas thermal ablasi, dan kesiapan integrasi pembiayaan untuk direplikasi ke kabupaten/kota lain. [ipl/but]






