Surabaya (beritajatim.com) – Sebagai wilayah dengan 14 jenis potensi bencana, Jawa Timur menuntut langkah mitigasi yang sistematis, terutama di lingkungan pendidikan. Merespons hal tersebut, Dinas Pendidikan (Dindik) Jatim memperkuat implementasi kurikulum Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) atau Sekolah Tangguh Bencana.
Kepala Dinas Pendidikan Jatim, Aries Agung Paewai, memastikan kurikulum tambahan ini telah disosialisasikan secara masif di sekolah-sekolah dengan menggandeng Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim.
”Sekolah Tangguh Bencana sudah kita masukkan dan sosialisasikan sebagai kurikulum tambahan. Tujuannya membangun kesiapsiagaan siswa, guru, hingga staf melalui penguatan sistem dan keterampilan merespons bencana,” ujar Aries di sela-sela Bimtek Kepala Sekolah di Kantor BPSDM Jatim, Jumat (16/1/2026).
Aries menekankan bahwa SPAB bukan sekadar simulasi evakuasi, melainkan upaya membentuk agen perubahan yang mampu menciptakan lingkungan belajar aman dan berkelanjutan.
Langkah Dindik Jatim ini sejalan dengan dorongan Ketua Komisi E DPRD Jatim, Sri Untari Bisowarno. Ia menegaskan bahwa mitigasi di sekolah harus bersifat kontekstual sesuai karakter geografis masing-masing daerah.
”Potensi bencana kita beragam. Wilayah perkotaan rawan kebakaran dan banjir, pegunungan terancam tanah longsor, sementara pesisir selatan berisiko tsunami. Pemahaman mitigasi siswa harus disesuaikan dengan ancaman di sekitarnya,” jelas Sri Untari.
Ia berharap program SPAB tidak dijalankan secara parsial atau sekadar formalitas, melainkan menjadi bagian integral dari kesadaran kolektif warga sekolah. “Sekolah harus menjadi ruang awal untuk membangun kewaspadaan sejak dini,” pungkasnya. [tok/aje]






