Telah lima kali digelar pemilihan umum (Pemilu) di era Orde Reformasi: tahun 1999, 2004, 2009, 2014, dan 2019. Dari lima kali hajatan pesta demokrasi, partai politik (Parpol) pemenang di Jatim selalu silih berganti.
Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) memenangkan tiga kali pemilu di Jatim: Pemilu 1999, 2004, dan 2014. Partai Demokrat menang pada Pemilu 2009 di Jatim dengan raihan suara lebih dari 20 persen. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) menang di Jatim pada Pemilu 2019 dengan raihan suara 22,5 persen atau setara 27 kursi DPRD Jatim.
Wilayah politik Jatim memiliki karakteristik politik yang berbeda dengan Jateng, misalnya. Sepanjang pemilu Orde Reformasi, Jateng dikenal sebagai teritori politik PDIP. Partai pimpinan Megawati Soekarnoputri ini selalu memenangkan pemilu di Jateng.
Tak ada partai lain yang mampu mengandaskan dominasi politik PDIP di Jateng. Provinsi ini menjadi basis tradisional terkuat bagi partai berpaham Nasionalis Soekarnois dibanding provinsi lainnya di Indonesia.
Tuan politik yang memenangi dan mengendalikan perpolitikan Jatim selalu silih berganti. PKB menang sebanyak tiga kali, PDIP dan Partai Demokrat masing-masing menang sekali di Jatim. Realitas ini menggambarkan banyak fenomena politik Jatim.
Pertama, teritori politik Jatim merupakan wilayah dengan dinamika politik tinggi dan tak bersifat statis dalam relasinya dengan aliran politik yang bisa diterima pemilih di Jatim. Provinsi ini dikenal sebagai rumah besar komunitas Islam Tradisional (NU) di Indonesia. Partai NU yang bertarung di Pemilu 1955, pemilu pertama pasca-kemerdekaan RI, pengumpul suara terbanyak vis a vis PNI, Partai Masyumi, dan PKI.
Sekali pun di pemilu pertama Orde Reformasi pada tahun 1999 menempatkan PDIP sebagai jawara dengan jumlah peserta Pemilu 1999 sebanyak 48 partai. PDIP merebut dukungan 35.689.073 suara atau ekuivalen 153 kursi di DPR RI, posisi kedua ditempati Partai Golkar dengan 23.741.749 suara atau 120 kursi. PPP di posisi ketiga dengan 11.329.905 suara atau 59 kursi, tempat keempat PKB dengan 13.336.982 suara atau 51 kursi, dan kelima oleh PAN dengan 7.528.956 suara atau 35 kursi.

Secara nasional, PDIP tampil sebagai pemenang dengan 32 persen lebih dibanding partai lainnya di Pemilu 1999. Di wilayah Jatim, PKB partai yang dideklarasikan Gus Dur, KH Iljas Ruhiyat, KH Mustofa Bisri, KH Munasir Ali, dan KH Muchit Muzadi tampil sebagai pemenang di Jatim. Hampir 50 persen raihan suara PKB secara nasional atas kontribusi PKB Jatim.
Selain Jatim, teritori politik Jateng, Jabar, Lampung, Kalsel, dan Sulsel adalah lumbung suara PKB. Meminjam terminologi Herbert Feith, mengacu pada hasil Pemilu 1955, Partai NU merupakan ‘Partai Jawa’. Kekuatan politik yang basis tradisional dukungannya sebagian besar dari konstituen yang berada di Pulau Jawa. Fenomena Partai NU di Pemilu 1955 menurun ke PKB di sepanjang pemilu Orde Reformasi.
Lanskap politik Jatim di Pemilu 2004 tak banyak mengalami perubahan ekstrem. Tak berbeda jauh dibanding Pemilu 1999. PKB, PDIP, dan Partai Golkar merupakan tiga kekuatan politik besar di provinsi yang kini berpenduduk 40 juta jiwa lebih ini. Ketiga partai ini merepresentasikan kredo politik yang tak sama dalam perspektif historis dan kultural.
PKB adalah rumah besar komunitas Islam Tradisional (NU). PDIP menjadi lahan komunitas politik Nasionalis Soekarnois, yang punya ikatan historis, kultural, sosiologis dengan PNI. Partai Golkar merepresentasikan kekuatan Karya Kekaryaan yang memposisikan Pembangunanisme sebagai kredo politik perjuangannya dan berusaha melepaskan jalinan politiknya dengan kekuatan politik lama warisan Orde Lama Soekarno, yang ditandai pertarungan ideologis yang keras.
BACA JUGA:
Anies Bersantai Baca Buku Saat Senja, Ini Tafsir Politiknya
Menguji Propaganda Politik dengan Artificial Intelligence
Dari dua kali hajatan politik Orde Reformasi (Pemilu 1999 dan 2004), PKB mampu mengukuhkan dominasinya di lanskap politik regional Jatim. Perubahan konfigurasi dan lanskap politik Jatim dalam skala besar terjadi setelah Pemilu 2009. Partai Demokrat, kekuatan politik yang dipandegani Jenderal (Purn) Susilo Bambang Yudhoyono yang berhaluan Nasionalis Religius, memenangkan hajatan politik nasional Pemilu 2009. Di Jatim sendiri memperoleh dukungan lebih dari 20 persen suara sah.
Pemilu 2009 menandai prestasi politik paling buruk bagi PKB secara nasional dan regional Jatim. Partai ini diterjang pembelahan politik akut antara kubu Gus Dur versus kubu Muhaimin Iskandar. Selain itu, akibat pertarungan keras antar-faksi di internal PKB setelah muktamar Semarang tahun 2005, lahir PKNU di bawah pimpinan Choirul Anam. PKNU memperoleh suara cukup signifikan di sejumlah kabupaten/kota di Jatim, seperti di Kabupaten Jember, Bondowoso, Situbondo, dan sejumlah kabupaten/kota lainnya.
Pemilu 2009 memunculkan fenomena politik ‘Gelombang Biru’, warga kebesaran Partai Demokrat, di Jatim maupun nasional. Sebagai kekuatan politik yang baru dua kali terjun di hajatan pemilu (2004 dan 2009), Partai Demokrat mengandaskan ambisi besar partai-partai lama mencengkeramkan dominasi politik mereka di Jatim. [air/but/bersambung]






