Jember (beritajatim.com) – Pengiriman pupuk bersubsidi ke Kabupaten Jember, Jawa Timur mengalami kendala pada medio Januari 2026. Sementara itu serapan pupuk bersubsidi di Jember hingga 23 Januari 2026 masih tertingi di Jawa Timur.
“Dari 124.122 ton pupuk, sudah terealisasi ke gudang itu 13.549 ton atau 10,92 persen. Itu di bulan Januari saja. Kalau melihat fenomena realisasi ini, Jember ini termasuk (kategori) pemakaian serempak di seluruh wilayah,” kata Slamet Saputra, Account Executive PT Pupuk Indonesia Wilayah Jember, ditulis Rabu (28/1/2026).
Slamet mengaku khawatir dengan tingginya serapan pupuk bersubsidi di Jember pada Januari 2026. “Agak ngeri-ngeri sedap juga kalau penebusan ramai seperti ini, karena yang kami takutkan terjadi panic buying di petani. Akhirnya alokasi yang ditujukan untuk satu tahun malah terserap semua di Januari,” katanya.
Menurut Slamet, perlu ada edukasi kepada petani soal penggunaan pupuk bersubsidi. “Penggunaan pupuk subsidi harus melihat sistem tanam agar tidak terjadi panic buying,” katanya.
Potensi panic buying ini muncul menyusul tersendatnya pengiriman pupuk pada 10-15 Januari 2026, sehingga ada kekosongan stok di seluruh gudang di Jember. “Ini karena adanya gangguan operasional PT. Pusri Palembang, dan kendala ombak yang sangat tinggi di lautan sehingga pengiriman lewat kapal agak tersendat,” kata Slamet.
Namun, menurut Slamet, kekosongan ini bukan berarti tidak ada sama sekali. “Hanya pengirimannya mungkin tidak terlalu banyak seperti biasanya,” katanya.
Kendala ini membuat PT Pupuk Indonesia mendatangkan bantuan pasokan ke Jatim dari PT Pupuk Kaltim sebanyak delapan ribu ton pupuk granul dan dua ribu ton dari Petrokimia Gresik. Kabupaten Jember mendapat alokasi bantuan pasok sebanyak tiga ribu ton untuk Januari 2026. Bantuan pasok untuk Jember sudah terealisasi 1.500 ton.
Saat ini, menurut Slamet, pengiriman dari PT Pusri Palembang berangsur-angsur normal. Dengan demikian pada Januari ini, di gudang-gudang penyimpanan terisi pupuk urea bersubsidi jenis pril dan granul. Urea granul ternyata mendapat sambutan positif dari petani.
“Kami berupaya pasokan pupuk ini jangan sampai terlambat, walaupun memang kemarin sempat ada keterlambatan. Ini berangsur-angsur normal mulai minggu kemarin, bahkan untuk minggu per hari Jumat kemarin kita sudah mulai bisa mengisi ke gudang-gudang kami,” kata Slamet.
Penyaluran tertinggi pupuk bersubsidi pada Januari 2026 di Kecamatan Balung dan Gumukmas. “Agar jangan sampai terjadi kekurangan pupuk di seluruh kecamatan, kami bagi tidak rata (proporsional, red), setidaknya di seluruh kecamatan kami isi dulu agar tidak terjadi kelangkaan,” kata Slamet..
Ketua Komisi B DPRD Jember Candra Ary Fianto sepakat perlunya sosialisasi dan edukasi kepada petanu, terutama terkait kekosongan stok pupuk. “Kekosongan pupuk hari ini bukan karena faktor kesengajaan, tapi karena ada faktor alam juga yang mempengaruhi pengirimanmnya, termasuk juga ada kendala di pabrik,” katanya.
Agus Khoironi, anggota Komisi B DPRD Jember, mengatakan, saat ini adalah musim bercocok tanam. “Jadi memang ketika mereka membutuhkan pupuk, ya memang harus ada. Soalnya pas mereka ngasih pupuk tidak dipenuhi. pupuknya telat, akhirnya panik,” katanya.
“Bahkan di tempat saya kemarin, di daerah Sumberrejo, sudah ada laporan harga pupuk Rp 125 ribu per sak itu dibeli, karena tidak ada pupuk sama sekali,” kata Agus.
Agus berharap ke depan PT Pupuk Indonesia harus mengantisipasi dan menangani kendala dengan cepat agar petani tidak terlambat memupuk tanaman. “Kalau enggak ada pupuk, jelas tanaman enggak bisa modot (tumbuh besar) sama sekali, apalagi berbuah,” katanya.
Agus bercerita bagaimana tanamannya menguning karena tidak dipupuk, menyusul keterlambatan pasokan. “Petani itu sebenarnya menerima kok. Kalau enggak ada pupuk ya menerima. Jadi, kalau dikatakan panic buying sebenarnya mereka enggak. Soalnya mereka memang butuh,” katanya. [wir]






