Tulungagung (beritajatim.com)– Pemkab Tulungagung menggelar prosesi Jamasan Pusaka Tombak Kiai Upas, yang merupakan event tahunan, pada Jumat bulan Sura dalam sistem penanggalan atau kalender Jawa. Tombak tersebut diyakini merupakan pusaka Ki Ageng Mangir, yang diwariskan ke Bupati Tulungagung secara turun temurun.
Menurut sejarah, Ki Ageng Mangir, merupakan menantu Raja Mataram yang menolak tunduk. Setelah Ki Ageng Mangir meninggal, Tombak Kiai Upas disimpan di Pendapa Kanjengan Tulungagung. Pusaka ini juga dikaitkan dengan sejarah berdirinya Kabupaten Tulungagung.
Ritual jamasan ini diawali dengan kirab kesenian Reog, yang mengiringi dayang atau putri pembawa air dari sembilan sumber. Air tersebut dicampur dengan kembang tujuh rupa dan digunakan untuk menjamas atau mencuci Tombak Kiai Upas.
Pj Bupati Tulungagung, Heru Suseno mengatakan, kegiatan ini merupakan tradisi yang dilakukan setiap tahun. Selain melestarikan tradisi, jamasan ini juga bertujuan untuk membersihkan karat yang ada pada bagian mata tombak. Ritual ini juga menjadi salah satu agenda budaya yang digelar setiap tahun.
“Ini juga merupakan bentuk syukur kami selama setahun ini semua kegiatan berjalan lancar,” ujarnya.
Kegiatan jamasan ini masuk dalam kalender wisata Tulungagung. Namun selama ini minim wisatawan yang datang berkunjung saat prosesi jamasan berlangsung. Menurut Heru meskipun masuk dalam kalender wisata namun ada beberapa hal yang mesti dijaga terkait kesakralan prosesi jamasan ini.
Heru berharap tidak banyak dilakukan perubahan agar tidak kehilangan esensi jamasan tersebut. “Kalau menurut saya justru harus dijaga kesakralannya, tidak perlu melakukan banyak perubahan nanti malah tidak pantas,” tuturnya.
Ritual jamasan ini sudah terdaftar sebagai Warisan Budaya Tak Benda sejak 2019 lalu. Melalui kegiatan ini Heru berharap ritual ini tetap digelar sebagai bentuk pelestarian terhadap tradisi yang sudah ada.
“Ini merupakan tanggung jawab pemerintah untuk melestarikan tradisi Jamasan Tombak Kiai Upas, terlebih tombak ini merupakan pusaka Kabupaten Tulungagung,” pungkasnya. [nm/beq]






