Nganjuk (beritajatim.com)–Jalan bebas hambatan (Tol) ruas Kertosono-Wilangan Kabupaten Nganjuk telah diresmikan Presiden Joko Widodo (Jokowi), Kamis (20/12/2018). Jalan tol ini diharapkan mampu mengakselerasi pertumbuhan ekonomi Kabupaten Nganjuk di masa depan.
Hal itu dikatakan Bupati Nganjuk, Novi Rahman Hidayat kepada beritajatim.com beberapa hari lalu di Nganjuk. “Insya Allah dengan selesainya pembangunan jalan tol proses pembangunan di Nganjuk berlangsung lebih cepat. Doakan angka pertumbuhan ekonominya bisa lebih tinggi dibanding sekarang,” kata Bupati Novi.
Sebagai daerah yang berada di kawasan tengah koridor pembangunan di Jatim, Nganjuk memiliki posisi strategis. Kendati tak memiliki perairan laut, potensi ekonomi Nganjuk tak bisa dinafikan. Selama ini Nganjuk dikenal sebagai salah satu daerah sentra pangan di Jatim, selain Kabupaten Lamongan, Jember, Kediri, Madiun, Banyuwangi, Probolinggo, Tuban, Pasuruan, Malang, dan kabupaten/kota lainnya di Jatim.
“Harapan kita pertumbuhan sektor industri manufaktur makin cepat dan bervariasi di Nganjuk,” tambahnya. Sebelum jalan bebas hambatan Trans Jawa yang melewati Nganjuk diresmikan Presiden Jokowi, Bupati NOvi dan Pemkab Nganjuk telah merencanakan pembangunan kawasan industri. Lahan kawasan industri ini letaknya tak jauh dari interchange jalan tol. “Sudah kita siapkan lahan kawasan industri di Nganjuk,” tegasnya.
Akselerasi pertumbuhan ekonomi yang berbasis pertanian, dengan daya dukung sektor industri manufaktur dan jasa yang mantap di Nganjuk, menurut Bupati Novi, diharapkan memberikan multiplier effect bagi promosi kesejahteraan rakyat Nganjuk.
Sebab, tingkat kemiskinan di daerah ini masih berada di angka dua digit, kendati besarannya selalu mengalami penurunan secara inkremental dari tahun ke tahun.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) setempat menunjukkan, pada tahun 2012, tingkat kemiskinan di Nganjuk mencapai 13,22 persen dari jumlah penduduk, tahun 2013 berada di level 13,60 persen, tahun 2014 dengan 13,14 persen, tahun 2015 dengan 12,69 persen, tahun 2016 dengan 12,25 persen, dan tahun 2017 di level 11,98 persen.
Penurunan angka kemiskinan di Nganjuk itu linier dengan peningkatan skoring Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di Kabupaten Nganjuk. Data yang ada menyebutkan, tingkat IPM Nganjuk pada 2010 dengan 65,60; tahun 2011 dengan 66,58; tahun 2012 dengan 68,07; tahun 2013 dengan 68,98; tahun 2014 dengan 69,59; tahun 2015 dengan 69,90; tahun 2016 dengan 70,50; dan tahun 2017 dengan 70,69.
“Insya Allah kawasan Nganjuk di sepanjang jalan tol ini akan mengalami percepatan pertumbuhan ekonominya. Kita rencanakan untuk itu,” tegas Bupati Novi. [air]






