Lamongan (beritajatim.com) – Pemerintah Kabupaten Lamongan melalui Dinas Pekerjaan Umum Sumber Daya Air (PU SDA) Kabupaten Lamongan memastikan ketersediaan air hingga panen padi di musim kemarau dapat tercukupi. Ini mengingat jadwal tanam padi mundur akibat panjangnya musim penghujan.
Mengingat Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah memperkirakan bahwa musim kemarau terjadi pada bulan Mei 2024 hingga Agustus 2024.
Selain itu, musim kemarau pada tahun ini juga bersamaan dengan musim tanam padi kedua di Kabupaten Lamongan. Hal tersebut terjadi karena jadwal tanam kedua mundur, sebagai akibat dari mundurnya musim hujan.
“Beberapa upaya telah kami upayakan untuk menjaga ketersediaan air untuk petani yang sedang menanam padi. Tercatat per 15 Mei 2024, rencana luas tanam padi di daerah irigasi Kabupaten Lamongan sebesar 41.300 hektar dari lahan irigasi 45.900 hektar,” kata Kepala Dinas PU SDA Kabupaten Lamongan Gunadi saat ditemui, Selasa (28/5/2024).
Gunadi menyebutkan bahwa upaya yang dilakukan untuk menjaga ketersediaan air di wilayah utara dilakukan dengan normalisasi saluran Sluis Melik, Sluis Palangan, Sluis Banjarejo, Sluis Banyuurip, Sluis Kleco Watangpanjang, dan Sluis Ngajaran. Dengan demikian, maka akan mampu menampung suplai air baku dari Bengawan Solo.
“Wilayah utara dipastikan masih aman untuk ketersediaan air, karena suplai dari Bengawan Solo masih normal. Sehingga bisa melakukan panen padi yang diperkirakan dilaksanakan pada bulan Agustus hingga Oktober secara bertahap,” jelasnya.
Sedangkan untuk wilayah selatan, ketersediaan air untuk pertanian hanya mengandalkan dari insfrastruktur sumber daya air seperti waduk dan embung. Hingga 15 Mei volume seluruh waduk di Lamongan sejumlah 52.880 juta m³. Waduk Gondang baku sawah memiliki luas lahan tanam 10.588 hektar, namun yang bisa tanam hanya 7.200 hektar.
“Salah satu waduk yang mengairi wilayah selatan ialah Waduk Gondang. Volume air di sana memang tidak banyak, namun kita usahakan cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga panen yang diperkirakan panen bulan Juli. Yang mengakibatkan ketersediaan air waduk tidak maksimal ialah faktor elnino curah hujan lebih kecil dari biasanya,” papar Gunadi.
Lebih lanjut, Gunadi mengatakan bahwa cara untuk mengupayakan cukupnya ketersediaan air di wilayah selatan ialah dengan mengutamakan tanaman yang memiliki potensi panen tinggi.
“Termasuk mengalihkan jenis tanaman lainnya, yakni tanaman palawija yang tidak membutuhkan banyak air,” tutupnya. [riq/beq]






