Surabaya (beritajatim.com) – Pemilik Kenjeran Park, Soetiadji telah ditetapkan sebagai tersangka insiden perosotan ambrol oleh Satreskrim Polres Pelabuhan Tanjung Perak. 17 orang mengalami luka dalam insiden yang terjadi pada Sabtu (7/5/2022).
Soetiadji mengakui penetapan status tersangka tersebut. Tetapi, dia menilai permasalahan ini tidak jelas dan mengatakan insiden yang terjadi adalah musibah.
Dia pun meminta polisi menyelidiki fakta menumpuknya 17 orang dalam seluncuran. Penumpukan itulah, kata dia, yang menjadi penyebab ambrolnya seluncuran.
“Harus didalami penyebabnya musibah itu apa, tidak bisa dipikir hanya karena alat. Sementara dari GM, operator, itukan karena overload (penumpukan di satu titik seluncuran),” ujar Soetiadji.
Soetiadji menjelaskan struktur seluncuran itu dia beli dari Kanada pada 2000-an. Menurutnya, seluncuran dibuat dari bahan fiber dengan potongan-potongan yang disusun sedemikian rupa.
Di bagian tengah potongan, terdapat silikon yang berfungsi untuk mencegah air bocor. Ditanya terkait maintenance, Soetiadji mengatakan pihaknya telah merawat seluncuran itu dengan baik.
“Itu harus dicari penyebabnya kenapa terjadi dalam satu potongan ada tumpukan 17 orang. Kan nggak masuk logika. Kan kalau satu orang lewat ya bisa saja aman. Itu ambrol karena tumpuan satu titik,” imbuhnya.
[berita-terkait number=”3″ tag=”tragedi-kenpark-surabaya”]
Ditanya apakah Soetiadji akan melakukan praperadilan kepada polisi, dia mengaku tidak berpikir sejauh itu. Tetapi dia meminta penyidik untuk seobjektif mungkin melihat peristiwa ini.
Jika alat yang disalahkan, kata Soetiadji, maka dia juga konsumen. Sebab, alat itu dia beli dari pabrik di Kanada.
“Saya berharap seobjektif mungkin dengan penyelidikan, dicari kebenaran penyebabnya. Yang penting harus secara objektif dan harus melibatkan, saya ini konsumen, pabrik yang bikinnya dari canada. Bukan saya yang bikin, itu kan ada pabriknya, ini saya pemakai,” tegasnya.
Soetiadji menambahkan telah bertanggung jawab penuh kepada 17 korban yang sempat dirawat di rumah sakit usai tragedi seluncuran itu terjadi. “Saya nggak akan mangkir, prioritas utama ya untuk korban. Untuk biaya pengobatan bantuan dan santunan sudah diberikan Rp600 juta lebih,” pungkasnya. [ang/beq]






