Ponorogo (beritajatim.com) – Tim Gegana Satbrimob Polda Jawa Timur menemukan unsur bahan peledak kategori low explosive atau black powder dalam investigasi ledakan mercon di Desa Plosojenar, Kecamatan Kauman, Kabupaten Ponorogo. Ledakan dahsyat yang terjadi pada Minggu (1/3/2026) tersebut mengakibatkan satu orang pelajar meninggal dunia dan dua lainnya mengalami luka bakar serius.
Personel berseragam lengkap melakukan penyisiran teliti di area yang telah dipasangi garis polisi sejak Senin (2/3/2026) pagi. Fokus utama petugas adalah memastikan tidak ada material berbahaya yang tertinggal guna menghindari potensi ledakan susulan di tengah pemukiman warga.
Komandan Detasemen (Danden) Gegana Satbrimob Polda Jawa Timur, Kompol Dyan Vicky Sandi, menjelaskan bahwa material yang ditemukan terdiri dari belerang dan potas atau booster kelengkeng. Bahan-bahan tersebut merupakan komponen utama dalam peracikan bubuk petasan tradisional.
“Investigasi dari Gegana, sementara yang kami temukan itu ada unsur belerang, kemudian ada potas atau booster kelengkeng. Jadi yang dibuat disini dipastikan low explosif atau Black powder,” ungkap Kompol Sandi di lokasi kejadian.
Tim Gegana turut mengamankan sejumlah barang bukti yang dicurigai sebagai sisa material ledakan untuk pemeriksaan lebih lanjut. Benda-benda yang disita meliputi selongsong petasan, bungkus belerang, serta potas yang diduga menjadi bagian dari racikan peledak.
“Ada selongsong petasan, bungkus belerang, sama potas,” katanya.
Sandi menekankan bahwa bahaya bahan peledak tidak hanya ditentukan dari jenisnya, melainkan dari volume dan tekanan yang dihasilkan saat terjadi reaksi kimia. Secara fisika, jumlah bahan yang besar akan menghasilkan tekanan tinggi yang dapat berdampak fatal bagi manusia.
“Jenis bahan peledak itu tidak tergantung jenisnya apa, tapi ketika itu jumlahnya besar, daya ledaknya tinggi, impactnya ya bisa membahayakan atau merenggut nyawa seseorang karena tekanan yang sangat tinnggi,” tegasnya.
Berdasarkan hasil olah tempat kejadian perkara (TKP) sementara, tim menduga ledakan dipicu oleh adanya percikan api saat proses penanganan bahan. Penyebab pasti insiden ini masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium forensik (Labfor) melalui penyidik Polres Ponorogo.
“Dugaan sementara kemarin ada mungkin percikan api. Tapi hasil investigasi dari penyidik Polres nanti dibawa ke labfor,” jelas Sandi.
Kekuatan ledakan diperkirakan berasal dari bahan baku seberat 2 hingga 5 kilogram yang diletakkan di luar ruangan. Hal ini menyebabkan tekanan menyebar ke segala arah dan menciptakan kawah ledakan di tanah sedalam kurang lebih 5 sentimeter.
“Mungkin 2 – 5 kilogram karena dibuat di luar rumah, tekanan ke luar menyebar dan kreter kedalaman atau kawah ledakan sampai 5 centimeter, itu sangat besar,” ungkapnya.
Pihak kepolisian menyoroti tantangan pengawasan karena bahan seperti belerang dan potas sangat mudah diperoleh masyarakat di pasaran secara bebas. Kondisi ini membuat aktivitas peracikan petasan secara ilegal masih sering ditemukan menjelang hari raya.
“Barang seperti ini, bisa didapat oleh masyarakat secara luas,” ujarnya.
Masyarakat diimbau keras untuk tidak mencoba merakit atau membuat bahan peledak serupa guna menghindari tragedi yang merenggut nyawa. Merujuk pada data tahun lalu, tercatat ada 23 tempat kejadian perkara (TKP) ledakan petasan di Jawa Timur dengan kerugian material dan jiwa yang sangat besar.
“Imbauan saya untuk masyarakat tidak usah membuat hal yang seperti ini, berkaca tahun lalu sekitar 23 TKP di Jawa Timur. Korban jiwa dan kerugian materialnya sangat besar ada banyak korban. Terkait dengan petasan, dan minggu lalu kejadian di Situbondo juga ada korban yang meninggal. Jadi kami harap kepada masyarakat tidak membuat bahan peledak seperti ini,” pungkas Sandi.
Insiden tragis pada Minggu petang tersebut kini dipastikan memakan tiga korban yang seluruhnya merupakan warga setempat. Satu korban meninggal dunia di lokasi kejadian, sementara dua korban luka bakar masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit. [end/beq]






