Surabaya (beritajatim.com) – Intelligent Digital Campus meraih penghargaan dari UNESCO. Pembelajaran berbasis digital saat pandemi Covid-19 yang digagas oleh ITS Surabaya tersebut kini telah diakui dunia.
Bahkan, dua penghargaan diterima sekaligus. Yakni dari UNESCO dan Kemendikbudristek. Dalam UNESCO-ICHEI Higher Education Digitalization Pioneer Case Award, ITS Surabaya bersaing dengan 131 kampus dari 42 negara.
“ITS menjadi satu-satunya perguruan tinggi di Indonesia yang mendapat penghargaan dari UNESCO dalam ajang tersebut,” kata Wakil Rektor I Bidang Akademik dan Kemahasiswaa ITS Prof Adi Soeprijanto, Jumat (8/12/2023).
Baca Juga: Hadapi Perubahan Iklim, Nestlé DANCOW Berikan Tips Proteksi Eksplorasi Anak
Di saat sama, ITS juga memperoleh penghargaan terbaik kedua untuk Program Bantuan Penyelenggaraan dan Pembelajaran Digital (P3D) dari Dirjen Dikti Kemedikbudristek. ITS diwakili oleh 2 tim yang diketuai oleh Dr Lila Yuwana dan Henning Titi MKom.
Rektor ITS Prof Mochamad Ashari mengatakan, ITS telah membangun seluruh perangkat regulasi dan infrastruktur serta menjalankan pembelajaran daring sejak Februari 2020 sebelum pandemi. Pemberlakuan pembelajaran berbasis digital ini memang sudah disiapkan sebelumnya.
“Waktu itu kami hampir mandek total. Aktivitas perkuliahan, manajemen, hingga proyek-proyek pembangunan infrastruktur semua terganggu,” ungkapnya.
Saat itu ITS membuat aplikasi myITS Classroom untuk memfasilitasi perkuliahan daring. Semua mahasiswa dan dosen ITS sudah didaftar sesuai jadwal perkuliahan berdasarkan SIM Akademik. Pada myITS Classroom tersedia list kelas yang diikuti setiap mahasiswa.
Baca Juga: Inilah Alasan Ganjar Jadikan Nusakambangan Penjara Khusus Koruptor
Selain itu, di ITS juga diterapkan pembelajaran asynchronous yang bisa diakses melalui LMS (learning management system), di mana dosen sudah menyiapkan materi kuliah dan mahasiswa bisa mengakses kapan saja dan di mana saja dengan fleksibel.
Ashari ingat betul, konektivitas dan akses menjadi tantangan yang harus dihadapi karena tidak semua mahasiswa memiliki akses internet yang stabil dan perangkat yang memadai untuk mengikuti pembelajaran online dengan baik.
“Waktu itu banyak terjadi perubahan dalam rencana kegiatan kampus. Semua ini tentu berdampak pada pengembangan intelektual maupun sosial para mahasiswa,” tuturnya.
Tetapi, Ashari menambahkan, di dalam sebuah bencana selalu terkandung hikmah. “Gara-gara pandemi Covid, sivitas akademika ITS justru mengalami percepatan keterampilan di bidang teknologi informasi karena dipaksa menjalankan pembelajaran dan kegiatan kerja secara virtual,” ungkapnya.
Ashari bersyukur atas penghargaan yang diperoleh dari UNESCO. Prestasi ini adalah hasil kerja bersama seluruh keluarga besar ITS. Ia pun menyampaikan ucapan terima kasih dan apresiasi atas kontribusi semua pihak. [ipl/ian]






