Blitar (beritajatim.com) – Bangunan MIN 3 Blitar ternyata menerapkan konsep inovatif. Meski bertingkat, bangunan madrasah yang berlokasi di Desa Mojorejo, Kecamatan Wates, Kabupaten Blitar itu didesain menggunakan kerangka bambu.
Kepala MIN 3 Kabupaten Blitar, Sutrisno menjelaskan, proses pembangunan gedung dua lantai dengan rangka bambu tersebut dilakukan pada 2022 lalu. Ratusan batang bambu tersebut digunakan sebagai pengganti besi.
Sekolahnya memang membangun ruangan di lantai dua untuk aula. Tepat di bawah ruangan aula tersebut ada empat kelas yang dipakai belajar para siswa.
Sementara itu, luas gedung bertingkat dua yang dibangun dengan rangka bambu tersebut adalah 26 x 9 meter. Pola pemasangan batang bambu yakni dengan jarak 10 centimeter.
“Aula itu dipakai untuk kegiatan temporer siswa. Memang benar rakitan bambu yang dipakai rangka. Tapi selang seling dengan lonjoran besi. Balak dan cagaknya juga tetap pakai besi,” kata Sutrisno, Senin (13/3/2023).
Baca Juga:
Cak Udin Berharap Siswa MIN 1 Kota Malang Jadi Penerus Bangsa
Menurut Sutrisno, pemakaian rakitan bambu sebagai kerangka bangunan ini merupakan ide dari tukang. Sang tukang sudah beberapa kali mengerjakan kontruksi serupa di Kabupaten Malang.
Sutrisno pun tak langsung menyetujui karena hal itu tak lazim digunakan. Selain itu, dia juga memikirkan keamanan konstruksi bangunan.
Tetapi setelah melihat beragam referensi, akhirnya pihak sekolah sepakat untuk menggunakan bahan batang bambu sebagai kerangka bangunan. Selain kuat, penggunaan bambu ini juga bisa menghemat biaya pembangunan gedung hingga 30 persen.
Baca Juga:
Kota Kediri Terapkan Sekolah Ramah Anak
“Setelah saya cari di google, ternyata sudah banyak yang memakai rakitan bambu untuk rangka cor itu. Sayapun setuju, karena selain aman, juga mengurangi biaya pembangunan sampai 30 persen,” jelasnya.
Sutrisno juga menerangkan, pembangunan ruang aula itu bukan proyek pemerintah. Tidak menggunakan anggaran pemerintah. Dan sudah dikonsultasikan dengan Kemenag Kabupaten Blitar. Sehingga jikapun diaudit akan aman.
“Ini bukan proyek pemerintah. Anggarannya juga hasil mengumpulkan dari amal jariyah anak-anak tiap Jumat. Kami juga punya dana hasil penjualan di koperasi. Bukan urunan komite sekolah juga. Alhamdulillah biaya untuk bikin aula itu sekitar Rp500 juta,” ungkapnya. [owi/beq]






