Malang (beritajatim.com) – Kreativitas mahasiswa Politeknik Negeri Malang (Polinema) kembali mencuri perhatian nasional. Tim bisnis bernama Elixir Elk sukses menyabet gelar Juara 2 dalam ajang bergengsi Indonesia Sharia Financial Olympiad (ISFO) 2025 kategori Wirausaha Muda Syariah.
Kompetisi yang diselenggarakan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bekerja sama dengan Bank Syariah Indonesia (BSI) dan ISFO ini mengantarkan mereka membawa pulang hadiah pembinaan sebesar Rp20.000.000. Di balik kemenangan tersebut, terdapat inovasi unik yang menggabungkan isu kesehatan dan lingkungan: produk mi instan sehat berbahan dasar limbah pangan.
Tim solid ini terdiri dari tiga mahasiswi lintas jurusan yang tergabung dalam UKM Usaha Mahasiswa Polinema. Mereka adalah Fadhilah Putri Aprilia Maharani (D4 Manajemen Pemasaran), Venydia Checika Rani (D4 Manajemen Pemasaran), dan Kanaya Abdielaramadhani Hidayat (D4 Sistem Informasi Bisnis).
Sebagai founder bisnis yang diberi nama Mie CAKKA, ketiganya tidak hanya mengerjakan tugas kuliah, tetapi juga aktif mengikuti berbagai lomba business plan, business case, hingga organisasi kewirausahaan.
Fadhilah Putri menceritakan bahwa ide bisnis ini bermula dari keresahan pribadinya. “Latar belakang membuat Mie CAKKA itu pertama dari diri saya. Saya sangat suka mi instan, lalu saya melihat di Indonesia banyak sekali mi instan tetapi kurang sehat. Ada juga mi sehat, tetapi rasanya kurang enak,” ungkapnya kepada beritajatim.com, Senin (17/11/2025).
Dari sanalah muncul formula Mie CAKKA, akronim dari Cangkang Telur dan Kulit Semangka. “Cangkang telur memberikan kalsium untuk tulang, sementara kulit semangka menyumbang kalium yang baik untuk tubuh,” jelas Fadhilah. Inovasi ini mulai diproduksi sejak Juni 2024.
Kanaya Abdielaramadhani menjelaskan sisi operasional bisnis mereka. Saat ini, produksi Mie CAKKA masih dilakukan secara handmade, namun mereka tetap menjaga kualitas secara serius. “Kami bekerja sama untuk konsultasi dengan sebuah pabrik dan sedang mengembangkan produk bersama ahli gizi dari Kota Malang,” tuturnya.
Meskipun masih dalam tahap merintis dan pengembangan produk (trial and error), penjualan Mie CAKKA sudah menjangkau luar Jawa Timur.
“Penjualan paling jauh sampai Yogyakarta. Memang belum besar karena kami masih merintis, tapi penjualannya melalui dua jalur: online lewat media sosial dan DM, serta offline melalui organisasi dan Car Free Day (CFD),” tambahnya.
Persaingan di ISFO 2025 sangat ketat. Venydia Checika Rani mengungkapkan bahwa mereka bersaing dengan sekitar 170 peserta mahasiswa. Setelah lolos kurasi proposal yang mencakup deskripsi bisnis hingga keuangan, mereka masuk 10 besar dan ditantang membuat video profil bisnis dalam waktu singkat.
“Kami bikin videonya H-3. Kami take di kafe di Malang sambil belajar, makan, dan masak Mie CAKKA. Alhamdulillah, tiba-tiba diumumkan masuk 3 besar,” kenang Venydia.
Namun, kunci kemenangan mereka terletak pada strategi presentasi yang cerdas. Tim Elixir Elk sangat memperhatikan first impression. “Kami selalu membuat strategi perpindahan pembicara. Kami selalu membuat hook di presentasi karena 3–5 detik pertama selalu menjadi poin plus dari sudut pandang juri,” kata Kanaya.
Selain teknik presentasi, kekuatan utama mereka adalah value bisnis. “Karena ini kompetisi Wirausaha Muda, yang dilihat adalah keberlanjutan bisnis dan dampaknya. Mie CAKKA menawarkan dampak positif bagi sosial dan lingkungan (zero waste). Kami tidak memakai pengawet atau MSG, murni alami,” tegasnya.
Kesuksesan Tim Elixir Elk juga tidak lepas dari peran dosen pembina, Dr. Tri Yulistyawati Evelina, SE., MM., yang menyampaikan bahwa mahasiswi bimbingannya memiliki rekam jejak prestasi sejak tingkat pertama.
“Mereka ini langganan lomba sejak tingkat 1. Sekarang karena sudah tingkat 3, mereka sudah terasah dan terampil. Peran saya lebih banyak di awal saat mengecek proposal, kadang sharing sampai malam jam 7 hingga jam 9,” ujar Dr. Tri.
Salah satu hal teknis yang ia perhatikan adalah harmonisasi suara presentasi. “Contohnya Mbak Fadhilah ini tone-nya tinggi, sementara Mbak Kanaya di tengah-tengah. Suaranya harus diseragamkan, itu yang kami latih,” tambahnya.
Setelah mengantongi hadiah Rp20 juta dan gelar juara nasional, Tim Elixir Elk tidak berpuas diri. Dana pembinaan tersebut akan digunakan untuk riset lanjutan.
“Selanjutnya, kami akan diskusi dengan pabrik terkait formulasi dan resep ulang untuk standarisasi. Kami juga sedang persiapan lomba internasional, karena kami sudah lolos grand final dan tinggal presentasi,” tutup Kanaya.
Mengingat Fadhilah Putri dan Venydia Checika berasal dari kelas internasional di Polinema, kemampuan bahasa Inggris mereka menjadi modal kuat untuk membawa nama Indonesia dan inovasi Mie CAKKA ke panggung dunia. (dan/kun)






