Malang (beritajatim.com) – Keterbatasan lahan di kawasan padat penduduk kerap menjadi kendala utama bagi produktivitas warga di sektor pertanian. Namun, tantangan tersebut berhasil dipatahkan oleh warga Dusun Jetis, Desa Mulyoagung, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, melalui inovasi sistem akuaponik.
Lahan terbatas di kawasan Jalan Margojoyo RT.01/RW.02 kini disulap menjadi area produktif yang mampu menghasilkan ikan dan sayuran segar secara berkelanjutan. Transformasi lingkungan ini merupakan bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat yang diinisiasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).
Program yang berlangsung sejak Juli hingga Desember 2025 tersebut melibatkan kolaborasi lintas disiplin ilmu, mulai dari Pendidikan Biologi, Perikanan, Ekonomi Bisnis, hingga mahasiswa dari Teknik Informatika dan Psikologi.
Ketua tim pengabdian, Prof. Dr. Yuni Pantiwati, MM., M.Pd., menjelaskan bahwa pemilihan metode akuaponik didasarkan pada efisiensi pemanfaatan ruang serta prinsip keberlanjutan lingkungan. Sistem ini mengintegrasikan budidaya ikan dan tanaman dalam satu siklus air yang saling menguntungkan.
“Akuaponik adalah solusi paling tepat untuk kondisi lahan warga saat ini. Metode ini memungkinkan masyarakat memproduksi pangan secara mandiri tanpa membutuhkan lahan luas. Lebih dari sekadar produksi, target kami adalah meningkatkan nilai ekonomi dari hasil panen tersebut,” ungkap Prof. Yuni.
Program pengabdian ini terlaksana berkat dukungan skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Agar sistem dapat berjalan berkelanjutan, warga tidak hanya menerima bantuan sarana, tetapi juga dilibatkan secara aktif dalam seluruh proses teknis. Dosen Fakultas Perikanan dan Peternakan UMM sekaligus koordinator teknis program, Dony Prasetyo, S.Pi., M.Si., menekankan pentingnya penguasaan teknologi oleh masyarakat.
“Kami melakukan pendampingan menyeluruh, mulai dari perancangan sistem, pemilihan komoditas yang bernilai ekonomis, pembibitan, hingga perakitan instalasi. Semua dilakukan bersama warga agar mereka menguasai teknologinya,” jelas Dony.
Komoditas yang dikembangkan dalam sistem akuaponik ini meliputi sejumlah sayuran yang memiliki tingkat konsumsi tinggi, seperti sawi pakcoy, kangkung, bayam, dan seledri. Budidaya tanaman tersebut dipadukan dengan ikan lele (Clarias sp.) yang dinilai memiliki perawatan relatif mudah serta permintaan pasar yang stabil.
Tak berhenti pada tahap produksi, UMM juga mendorong penguatan aspek hilirisasi guna meningkatkan pendapatan keluarga. Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMM, Dr. Erna Retno Rahadjeng, M.M., memfokuskan pendampingan pada pengolahan pasca-panen serta pemasaran berbasis digital.
Kelompok ibu-ibu PKK Dusun Jetis mendapatkan pelatihan untuk mengolah hasil panen menjadi produk bernilai tambah, di antaranya keripik sayur dan abon lele.
“Tujuannya agar hasil panen tidak hanya habis di meja makan sendiri, tetapi bisa menjadi komoditas niaga. Kami ingin ini menjadi peluang usaha baru yang nyata bagi keluarga di Dusun Jetis,” tutur Dr. Erna.
Program akuaponik ini mendapat respons positif dari warga setempat. Sistem tersebut kini dipandang sebagai solusi konkret atas keterbatasan lahan sekaligus penguat ketahanan pangan dan ekonomi keluarga di kawasan permukiman padat. [dan/beq]






