Malang (beritajatim.com) – Angin sore di Lawang, Kabupaten Malang, berhembus lembut membawa aroma bunga kamboja dari halaman Panti Wreda Karya Asih.
Di sudut halaman, suara tawa bersahutan, bercampur lantunan lagu kebangsaan yang dinyanyikan dengan suara parau namun penuh semangat.
Hari itu, kemerdekaan bukan sekadar tanggal di kalender—ia hidup di wajah-wajah yang mungkin jarang tersorot kamera, namun menyimpan cerita panjang tentang rindu, kesabaran, dan harapan.
Panti ini tak mau ketinggalan menyambut Hari Kemerdekaan ke-80 Republik Indonesia. Namun, berbeda dari gegap gempita di lapangan desa atau hiruk pikuk lomba di sekolah, perayaan di sini terasa lebih hangat, lebih personal.
Ada lomba sederhana, cek kesehatan gratis, hingga makan bergizi—sebuah rangkaian yang diinisiasi oleh Dietnyaman dengan tajuk “Bendera Harapan untuk Mereka yang Terlupakan.”
“Kalau di luar pesta pora, kami ingin perayaan ini justru mendekatkan diri pada mereka yang jarang diingat. Lansia, juga yang berkebutuhan khusus,” tutur Aditya Pratama, founder Dietnyaman, Kamis (14/8/2025).
Bagi para penghuni panti, momen ini seperti jendela kecil yang menghubungkan mereka dengan kenangan lama. Beberapa sudah menetap di sini hampir satu dekade. Lomba-lomba yang digelar membuat mereka kembali merasakan riuhnya kampung halaman, aroma dapur ibu, dan sorak sorai anak-anak bermain di tanah lapang.
“Kita ajak lomba, nyanyi lagu kebangsaan. Mereka senang kalau diajak ngobrol. Kami juga ajak menulis bendera harapan—dan mayoritas isinya sederhana: ingin pulang, ingin dijemput anak,” lanjut Aditya.
Salah satu wajah yang sore itu tampak berbinar adalah Yeti Maria, perempuan asal Malang yang sudah delapan tahun tinggal di panti. Sakit jantung membuatnya tak bisa ikut lomba, tapi senyumnya merekah setiap kali melihat teman-temannya tertawa lepas.
“Senang lihat lomba. Kepinginnya ikut, tapi kan sakit jantung. Lihat saja sudah bahagia,” ucapnya pelan.
Di balik senyumnya, tersimpan kerinduan yang tak padam. Ia merindukan anak dan cucunya. Saat pertama kali dibawa ke panti, Yeti memberontak. Namun, waktu mengajarinya untuk menerima. Meski begitu, hatinya tetap berharap satu hari nanti ia bisa kembali ke rumah.
“Katanya anak saya buatkan kamar. Saya bilang, tidak usah, di ruang tamu saja sudah cukup. Kalau bisa pulang, saya ingin pulang,” katanya dengan mata menerawang.
Tak jauh dari Yeti, ada Dani, pria asal Surabaya yang tinggal di panti sejak 2019. Ia ikut tertawa dalam lomba, meski hatinya juga menyimpan jarak waktu dengan keluarga. “Kepinginnya ada acara seperti ini lagi, tidak hanya Agustus. Saya sudah tidak ketemu anak sejak 2018, tidak ketemu mama sejak 2019,” ujarnya.
Di Panti Wreda Karya Asih, bendera merah putih tak hanya berkibar di tiang. Ia juga berkibar di dada para lansia, sebagai simbol bahwa kemerdekaan bukan hanya milik mereka yang muda dan kuat, tapi juga mereka yang tengah menunggu pelukan keluarga. Di sini, setiap senyum, setiap tawa, dan setiap bendera kecil berisi harapan adalah bentuk perayaan kemerdekaan yang paling murni. (ted)






