Surabaya (beritajatim.com) – Founder Komunitas Kawan Ayu, Ais Shafiyah Asfar atau yang akrab disapa Ning Ais, kembali menunjukkan komitmennya terhadap pemberdayaan perempuan, anak, lansia, dan disabilitas. Dalam upayanya menciptakan masyarakat yang inklusif, ia meluncurkan program “Kawan Ayu Mengajar Batch 1.0” di Kecamatan Krembangan, Surabaya.
Ning Ais mengatakan program ini menargetkan anak-anak dari keluarga kurang mampu, dengan memberikan pendidikan berkualitas yang dikemas secara interaktif. Fokus utamanya adalah meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris sebagai keterampilan penting di era globalisasi.
“Kami ingin memastikan bahwa setiap anak-anak di Surabaya memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh, belajar, dan berkontribusi,” ujar Ning Ais, Selasa (7/1/2025).
Anggota Komisi D DPRD Surabaya ini menambahkan, program ini melibatkan pemuda Surabaya sebagai relawan. Selain itu, program ini dirancang dengan pendekatan bermain sambil belajar. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan minat anak-anak untuk belajar tanpa merasa terbebani.
“Kami ingin mereka merasa bahwa belajar Bahasa Inggris itu menyenangkan dan bukan sesuatu yang membebani,” tambah Ning Ais, yang juga menjabat sebagai Ketua DPP Harian PKB.
Peluncuran program ini mendapatkan respons positif dari masyarakat setempat. Salah satu pembina anak-anak Rumah Singgah di Krembangan, Bunda Iis, menyampaikan rasa terima kasihnya.
“Kami merasa diperhatikan, terutama untuk anak-anak kami yang sekarang memiliki motivasi untuk belajar lebih giat,” ungkapnya.
Antusiasme warga menjadi bukti bahwa program ini mampu membawa perubahan signifikan. Keberhasilan batch pertama ini mendorong Ning Ais dan Komunitas Kawan Ayu untuk memperluas jangkauan program ke daerah lain dengan skala lebih besar.
“Kami ingin mereka percaya bahwa mereka memiliki potensi yang sama dengan anak-anak di kota besar. Dengan dasar pendidikan seperti Bahasa Inggris, mereka bisa memiliki akses ke lebih banyak kesempatan di masa depan,” tutur Ning Ais.
Melalui aksi ini, Kawan Ayu membuktikan bahwa pendidikan tidak harus kaku. Pendekatan yang kreatif dan penuh empati memberikan pengalaman belajar yang berbeda dan berharga bagi anak-anak marginal.
“Program ini adalah langkah awal untuk mewujudkan mimpi besar menciptakan masyarakat yang inklusif dan sejahtera,” pungkas Ning Ais. [asg/but]






