Gresik (beritajatim.com) – Penyakit katarak di Pulau Bawean Kabupaten Gresik masih menempati urutan tertinggi.
Berdasarkan survei Eyelink Foundation November hingga Desember 2022. Terdapat 296 orang lanjut usia (Lansia) menderita katarak, 90 lansia terkena pterygium, dan 135 orang siswa dicurigai mengalami kelainan refraksi.
Penyebab tingginya penyakit ini, selain belum adanya dokter spesialis mata. Daerah kepulauan seperti Bawean warganya sangat rentan terkena katarak karena ultra violet sinar mataharinya lebih tinggi. Ditambah lagi Indonesia merupakan negara tropis.
“Kita tidak bisa menghindar dari ketuaan. Sebab, lensa mata yang semula jernih lapisannya makin lama makin padat. Sehingga, cahaya yang masuk tidak bisa sempurna. Penyakit katarak pasti terjadi mengingat Indonesia negara tropis, dan sinar ultra violet matahari lebih tinggi,” ujar mantan Menteri Kesehatan (Menkes) Prof. dr Nila Djuwita Faried Anfasa Moeloek di Gresik, Kamis (12/01/2023).
Ia menjelaskan penyakit katarak tidak bisa dihindari tapi bisa dicegah. Ini karena usia 50 tahun rentan terkena. Diperkirakan jumlah yang terkena katarak akan terus meningkat. Hal ini juga menjadi beban bagi dokter spesialis mata.
“Bila ada gangguan penglihatan pada mata segera periksa ke dokter untuk dilakukan deteksi dini supaya tidak semakin parah,” paparnya.
[berita-terkait number=”4″ tag=”gresik”]
Sementara itu, Direktur Operasional & Pelayanan Medis Eyelink Group dr Uyik Unari menuturkan, bila terkena katarak, pterygium serta kelainan refraksi otomatis penglihatannya dibutuhkan perbaikan dengan segera.
“Kalau sudah katarak dan pterygium maka harus operasi. Bila mengalami refraksi maka dikoreksi dengan kacamata sesuai dengan ukuran,” tuturnya.
Khusus Pulau Bawean lanjut dia, karena disana belum ada dokter spesialis mata. Pihaknya menargetkan menggelar operasi katarak gratis terhadap 500 orang.
“Tahun ini kami menargetkan 500 orang dulu dan secara bertahap operasi katarak akan terus dilakukan tidak hanya di kepulauan tapi juga di daratan,” katanya.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Gresik, dr Mukhibatul Khusnah menyatakan di Pulau Bawean memang belum ada dokter spesialis mata. Sebagai tindak lanjutnya Pemerintah Kabupaten Gresik akan membuat regulasi pemberian insentif bagi dokter yang bertugas.
“Nanti ada semacam insentif tambahan bagi dokter spesialis yang akan bertugas di Pulau Bawean, dan ini sudah diusulkan ke bupati,” pungkasnya. (dny/ted)






