Ini drama yang kita butuhkan dari Persebaya. Drama sepak bola di atas lapangan hijau. Drama yang membuat sepak bola menjadi permainan indah dan menjadi alasan kita mencintai klub ini. Bukan drama ala Korea di luar lapangan.
Tertinggal di detik ke-31, Persebaya memperoleh kemenangan 2-1 berkat gol tendangan jarak jauh Mohammed Rashid, gelandang bertahan asal Ramallah, Palestina, pada menit 90+5. Ini kombinasi pertunjukan semangat juang dan kehendak untuk tidak menyerah.
Klub yang dihadapi pun adalah salah satu lawan terkuat Persebaya sejak keikutsertaan di Liga 1 pada 2018. Dalam sepuluh kali pertemuan di Liga 1, Persebaya hanya bisa menang dua kali dan meraih tiga kali hasil seri. Lima pertandingan lainnya berujung kekalahan.
Gol Barito ke gawang Persebaya dalam pertandingan pekan ketiga Liga 1 musim 2024-25, Jumat (23/8/2024), mirip dengan gol Mohamed Salah ke gawang Manchester City. Sapuan ceroboh kiper Persebaya Ernando Ari Sutaryadi membuat bola mengenai kaki Murilo dan mampir ke kaki Morelatto.
Posisi Ernando yang sudah jauh meninggalkan area kekuasaannya membuat Morelatto tinggal mengirimkan bola ke gawang yang tak terjaga. “Saya harus banyak belajar dan tetap fokus ke depan. Saya akan terus mengasah kemampuan saya,” kata Ernando, usai pertandingan.
Paul Munster, pelatih Persebaya, tidak gusar dengan kesalahan yang dilakukan Ernando. “Bagi saya, dia kiper terbaik di Liga 1,” katanya.
Pertandingan melawan Barito juga menjadi sinyal, bahwa tidak ada yang mudah di Liga 1. Persebaya harus memanfaatkan semua peluang dari serangan demi serangan yang dibangun ke zona pertahanan lawan. Gol balasan Bruno Moreira yang dicetak dari titik putih menunjukkan bagaimana setiap serangan akan memunculkan kepanikan lawan.
Dan yang terpenting adalah winning mentality. Mentalitas untuk menang. Mentalitas juara. Tidak boleh ada kata menyerah sebelum peluit akhir berbunyi. Barito dalam pertandingan malam itu adalah contoh bagus bagaimana sebuah tim memiliki mental pemenang.
Dalam buku Jadi Juara dengan Sepak Bola Possession yang ditulisnya bersama Ganesha Putra (yang saat ini mengomandani Persebaya Future Lab), Rahmad menekankan lima hal dalam possession football: kepercayaan diri, ketenangan, kesabaran, positif, dan pantang menyerah.
‘Buat seorang RD sebagai penganut sepak bola possession, space (ruang, red) dicari dengan cara menguasai bola selama mungkin. Melakukan interpassing cepat dibarengi pergerakan dengan dan tanpa bola. Sambil melihat adanya space menganga pada saat lawan mengorganisasi pertahanan. Di situlah momen tim bisa mencetak gol.’ [halaman 39]
Bermain dengan sepuluh pemain setelah Chechu Meneses terkena kartu merah karena menyentuh bola dengan sengaja di kotak penalti, tidak membuat Barito inferior. Bermain di depan 7.576 orang penonton di Gelora Bung Tomo, Surabaya, gawang anak asuhan Rahmad Darmawan yang dijaga Satria Tama itu tidak mudah ditembus tim tuan rumah.
Flavio Silva yang diharapkan bisa menunjukkan performa musim lalu saat memperkuat Persik Kediri masih belum pecah telur. Peluang terbaiknya melalui tandukan kepala berhasil dipatahkan Satria Tama. Munster tidak menutupi kekecewaannya. Harapannya terhadap Flaviio lumayan tinggi.
“Tapi yang penting Flavio mendapat peluang mencetak gol. Jika tidak ada kesempatan, itu jadi masalah lebih besar. Tapi mentalnya bagus, dan akan terus berusaha,” kata pelatih asal Irlandia Utara itu seperti membesarkan hati sendiri.
Yang diperlukan Flavio saat ini hanya satu gol. Setelah itu Munster percaya kran gol akan terbuka dan mengucur deras. “Saya mendukung dan mempercayainya,” katanya.
Tak ada rotan, akar pun jadi. Tak ada Flavio, Rashid pun boleh. Mentalitas pemenang Persebaya berbuah hasil pada menit 90+5. Tendangan keras Rashid setelah memperoleh operan dari Kasim Botan, membuat bola meluncur keras ke pojok kanan gawang Satria.
Gol dramatis.
Hingga pekan ketiga, Persebaya belum terkalahkan dengan merebut tujuh angka. Ini hasil terbaik Persebaya dalam tiga pertandingan awal musim sejak 2018. Sebelumnya paling tinggi Persebaya hanya meraih empat angka dari tiga pertandingan yakni pada musim 2023-24 dan musim 2018.
Sebuah tren positif yang kita butuhkan dari Persebaya. [wir]






