Ponorogo (beritajatim.com) – Kabupaten Ponorogo dikenal sebagai wilayah dengan potensi bencana tanah longsor yang tinggi, baik dalam bentuk longsor jatuhan maupun luncuran.
Potensi longsor di beberapa wilayah di bumi reog, masuk dalam kategori risiko tinggi, sehingga menjadi perhatian serius Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) di bawah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia.
Untuk mengurangi risiko bencana, pada tahun 2024 ini, PVMBG telah memasang 6 unit Landslide Early Warning System (LEWS) atau Sistem Peringatan Dini Longsor. Alat ini diharapkan mampu meminimalisir korban jiwa jika terjadi longsor di wilayah yang rawan.
“Tahun ini, PVMBG telah memasang 6 unit Landslide Early Warning System di Ponorogo,” ungkap Kepala Pelaksana BPBD Ponorogo, Masun, pada Selasa (10/09/2024).
Enam unit LEWS tersebut dipasang di beberapa titik rawan longsor yang tersebar di tiga kecamatan, yaitu Kecamatan Pulung, Kecamatan Sawoo, dan Kecamatan Slahung. Rinciannya, Desa Sriti (Sawoo) mendapatkan 2 unit, Desa Tempuran (Sawoo) juga 2 unit, sementara Desa Bekiring (Pulung) dan Desa Tugurejo (Slahung) masing-masing dipasangi 1 unit.
“Penempatan 6 unit Landslide Early Warning System diatur berdasarkan hasil asesmen terkait potensi dampak terhadap warga atau bangunan di sekitar lokasi tersebut,” tambah Masun.
Dia menekankan, wilayah dengan potensi longsor yang berdampak langsung pada pemukiman atau warga akan menjadi prioritas pemasangan alat ini.
Masun juga menjelaskan bahwa survei sebelumnya telah dilakukan di Desa Banaran, Kecamatan Pulung dan Desa Talun, Kecamatan Ngebel. Meskipun kedua desa tersebut berpotensi mengalami longsor, pemasangan alat dialihkan ke wilayah yang lebih berisiko menimpa pemukiman.
“Wilayah yang dipasangi Landslide Early Warning System merupakan daerah dengan riwayat longsor atau retakan tanah, serta berpotensi membahayakan pemukiman warga,” pungkas Masun.(end/ted)






