Kediri (beritajatim.com) – Industri keuangan syariah Indonesia memiliki potensi yang sangat besar. Namun di sisi lain, ada tantangan yaitu masih rendahnya tingkat literasi dan inklusi keuangan masyarakat.
Karena itu, diperlukan inovasi dari sejumlah stakeholder terkait agar keuangan syariah di Indonesia dapat tumbuh semakin kuat.
“Secara global pertumbuhan ekonomi syariah tumbuh dengan bagus,” ujar Deputi Direktur Grup Literasi dan Inklusi Keuangan Syariah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Rakyan Gilar Gifarulla dalam acara Media Update OJK Kediri dengan tema ‘Industri Keuangan Syariah: Dulu dan Kini’ melalui zoom meeting.
Rakyan mengatakan, dunia mengakui perkembangan ekonomi dan keuangan syariah di Indonesia. Hal ini ditunjukkan oleh laporan IFDR (Islamic Finance Development Indicator Report) 2022 yang menempatkan Indonesia pada posisi ke-7 total aset keuangan syariah di dunia.
Capaian tersebut, kata Rakyan, ditopang oleh banyak faktor pendukung. Di antaranya, Indonesia menjadi salah satu negara dengan populasi muslim terbesar di dunia. Hasil laporan RISSC, jumlah penduduk Indonesia yang beragama islam mencapai 240,62 juta atau 86,7 persen dari total penduduk Indonesia.
“Berdasarkan Paw Research Center, sekitar 98 persen masyarakat (termasuk muslim) menganggap bahwa peran agama penting dalam penerapan gaya hidup (2023). Kemudian dukungan pemerintah untuk memprioritaskan peningkatan ekonomi dan keuangan syariah melalui berbagai upaya dan kebijakan regulasi yang stretagis juga sangat bagus,” imbuhnya.
Peran MUI dalam Pengembangan Keuangan Syariah
Lahirnya keuangan dan perbankan syariah tak lepas dari peran Majelis Ulama Indonesia (MUI). Melalui Dewan Syariah Nasional (DSN-MUI), MUI menetapkan fatwa atas sistem, kegiatan, produk dan jasa di lembaga perekonomian, keuangan dan bisnis syariah serta mengawasinya.
Hal tersebut disampaikan oleh Dr. H. Asep Supyadillah, M.Ag, selaku Wakil Sekretaris Badan Pelaksana Harian (BPH) DSN-MUI dalam paparannya tentang Peran MUI dalam Pengembangan Keuangan Syariah.
“Prinsip syariah adalah prinsip hukum Islam berdasarkan fatwa dan atau pernyataan kesesuaian syariah yang dikeluarkan oleh lembaga yang memiliki kewenangan dalam penetapan fatwa di bidang syariah, Pasal 1 angka 24 UU No 4 Tahun 2023 tentang Pengembangan dan penguatan sektor keuangan/UU P2SK,” terang Asep Supyadillah sebagai narasumber lain.
Asep melanjutkan, lembaga fatwa di MUI ada dua. Pertama, Komisi Fatwa MUI yang mengeluarkan fatwa tentang aqiqah dan aliran/faham keagamaan, ibadah, sosial budaya, pangan, obat-obatan dan kosmetik, ilmu pengetahuan dan teknologi. Sedangkan DSN-MUI mengeluarkan fatwa tentang ekonomi, keuangan dan bisnis syariah.
DSN-MUI sepanjang 2023 telah mengeluarkan 165 fatwa. Antara lain, tentang perbankan syariah, pasar modal syariah, akad dan kelembagaan keuangan syariah, akuntansi syariah, fintek, uang elektronik dan e-commerce (market place, online shop, dropship).
Lalu, fatwa tentang asuransi/reasuransi, dana pensiun/anuitas syariah, pialang dan agen. Kemudian faktwa terkait bisnis syariah (PLBS, rumah sakit dan pariwisata. Terbaru, DSN-MUI mengeluarkan fatwa tentang Pelunasan Utang Pembiayaan Murabahah Sebelum Jatuh Tempo (PUPMSJT).
Tantangan Keuangan Syariah
Besarnya potensi keuangan syariah Indonesia yang didukung oleh berbagai pihak, termasuk DSN-MUI dihadapkan pada sebuah tantangan. Tingkat literasi dan inklusi yang masih sangat rendah.
Kepala OJK Kediri Bambang Supriyanto mengatakan, hasil survey SNLIK Tahun 2022 diketahui bahwa indeks literasi keuangan di tingkat nasional masing-masing sebesar 49,68 persen dan 85,10 persen. Lebih lanjut dalam survey tersebut diketahui bahwa indeks literasi keuangan syariah nasional sebesar 9,14 persen dan indeks inklusi keuangan syariah sebesar 12,12 persen.
“Tingginya gap antara literasi (tingkat pemahaman) serta tingkat inklusi keuangan tersebut menjadi latar belakang OJK berkolaborasi dengan dengan pelaku usaha jasa keuangan di sektor perbankan, IKNB dan pasar modal menyelenggarakan acara untuk meningkatkan literasi dan inklusi keuangan syariah dari tingkat pelajar,” terang Bambang Supriyanto.
Menurut Bambang, OJK mengoptimalkan momentum Ramadhan 1445 H/2024 M melalui program Gebyar Ramadhan Keuangan Syariah (GERAK Syariah) 2024. Melalui program ini, OJK menyelenggarakan lomba Duta Inklusi Keuangan Syariah (DAI KESYA) dan Media Update bersama jurnalis di wilayah kerja OJK Kediri dengan mengusung tema ‘Industri Keuangan Syariah : Dulu dan Kini’.
DAI KESYA merupakan kolaborasi OJK Kediri dengan industri jasa syariah yaitu bank umum syariah, BPR syariah, pegadaian syariah, lembaga pembiayaan syariah dan pasar modal syariah. Lomba DAI KESYA sendiri menyasar 452 siswa SMA/MA/sederajat di 13 Kabupaten Kota wilayah kerja OJK Kediri yang diselenggarakan sejak 26 Maret 2024 hingga 2 April 2024.
Para siswa yang mengikuti acara tersebut akan memperoleh pembekalan dari OJK dan industri terkait manfaat produk dan layanan keuangan syariah yang dapat digunakan oleh masyarakat level pelajar hingga dewasa. Setiap sesi pembekalan, OJK Kediri menyiapkan kuis terkait keuangan syariah dengan hadiah menarik.
“Kami berharap pelajar dapat berperan sebagai duta literasi keuangan syariah, memiliki pemahaman terkait produk, mampu membedakan produk dan layanan jasa keuangan konvensional dengan syariah,” ungkap Bambang Supriyanto.
“Media Update OJK Kediri merupakan wujud sinergi OJK dengan media yang dilaksanakan secara berkesinambungan. Kami menyadari betapa pentingnya peran media dalam meningkatkan branding keuangan syariah sehingga lebih mudah diterima oleh masyarakat,” beber Bambang Supriyanto.
Tingkatkan Literasi dan Inklusi Keuangan Syariah Melalui Program Unggulan
Deputi Direktur Grup Literasi dan Inklusi Keuangan Syariah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Rakyan Gilar Gifarulla sependapat dengan Kepala OJK Kediri Bambang Supriyanto. Menurutnya, literasi dan inklusi keuangan syariah memang perlu upaya untuk mengejar indeks secara nasional.
“Survey Nasional dengan BPS, tahun 2023 peningkatan literasi naik signifikan. Tanda usaha bersama OJK, Kementerian terkait dan DSN-MUI untuk mengembangkan literasi keuangan syariah. Meskipun inklusinya masih banyak upaya untuk mengejar,” terang Rakyan.
Rakyan mengungkapkan, hasil SNLIK 2022 berdasarkan gender, perempuan memiliki tingkat literasi yang lebih tinggi. Maka, peran perempuan sangat penting untuk meliterasi keluarga dan jaringan ibu-ibu.
Menurutnya, ada tiga hal yang harus dikembangkan dalam meningkatkan ruang ekonomi syariah yaitu, sisi pelajar termasuk santri, ibu rumah tangga (IRT) dan pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).
“Tiga ini sektor prioritas kami untuk ditingkatkan,” tegasnya.
Untuk itu, OJK meluncurkan berbagai program unggulan untuk meningkatkan literasi dan inklusi keuangan syariah berdasarkan tiga sasaran prioritas tersebut. Selain GERAK Syariah pada bulan suci Ramadhan 1445 H ini, ada program ibu-ibu/perempuan anggota majelis taklim dan organisasi muslim lainnya yang bertajuk SI CANTIKS (Sahabat Ibu Cakap Literasi Keuangan Syariah).
Kemudian, SAKINAH (Santri Cakap Literasi Keuangan Syariah) dan EPIKS (Ekosistem Pondok Pesantren Inklusif Keuangan Syariah). Program yang berfokus pada literasi dan inklusi keuangan syariah untuk memberdayakan pesantren di Indonesia. Terakhir, SYAFIF (Syariah Financial Fair) yaitu, program peningkatan keuangan syariah kepada berbagai lapisan masyarakat dalam rangka BIK.
Inovasi Produk dan Layanan Keuangan Syariah
Dalam meningkatkan literasi dan inklusi keuangan syariah butuh kolaborasi antar stake holder. Selain pemerintah sebagai pembuat kebijakan dan peraturan serta implementasi program, juga media yang memiliki peran dalam menyebarluaskan informasi dan edukasi kepada masyarakat serta industri jasa keuangan syariah itu sendiri.
Bank Syariah Indonesia (BSI) selaku pelaku usaha jasa keuangan syariah dituntut untuk terus mengembangkan inovasi model bisnis, produk dan layanan keuangan syariah agar dapat memperluas akses keuangan kepada masyarakat.
Area Retail Transaction Bisnis Manager Bank Syariah Indonesia (BSI) Kediri Yanik Febriani mengatakan, banyak inovasi produk dan layanan keuangan syariah yang telah diluncurkan. Selain upgrade sistem digital dan keberadaan kantor cabang, pihaknya juga mengembangkan BNI Syariah Agen untuk memperluas jangkauan kepada masyarakat.
“Saat ini di Kabupaten Kediri ada empat dan di Kota Kediri ada dua kantor cabang. Kita kembangkan BNI Syariah Agen ada di setiap kecamatan atau desa. Di seluruh area Kediri sudah ada 4.600 BSI Agen (Karesidenan Kediri dan Madiun),” terang Yanik Febrian.
Berbagai inovasi produk dan layanan jasa keuangan syariah yang dimaksud Yanik tersebut diantaranya, Tabungan Easy Wadiah, Deposito, Tabungan Berencana, Tabungan Haji Indonesia, Tabungan Haji Muda Indonesia, Tabungan Payroll dan Tabungan e-mas. Adapun inovasi produk diantaranya ada BSI Deposito Wakaf dan Reksadana Syariah.
Untuk produk unggulan berbasis digital antara lain, BSI Mobile, EDC Merchant, BSI Agent, Solusi Emas, New CMS BEWSE dan BSI QRIS. Dalam BSI Mobile terdapat berbagai fitur. Diantaranya, pembelian, transfer, pembayaran, fitur islami dan lainnya yang berisi keyboard, fitur tarik tunai tanpa kartu di seluruh ATM BSI, Ziswaf dan kalkulator zakat.
“Untuk peran dalam mendukung GERAK Syariah berupa dukungan dalam menciptakan wirausaha muda di Indonesia serta penguatan ekosistem UMKM,” tutur Yanik.
Lanjut dia, BSI juga memiliki program kompetensi, pelatihan dan pendampingan serta pemberian penghargaan bagi generasi muda yang baru memulai usaha (start up) dan bagi mereka yang ingin meningkatkan kapasitas usaha (scale up) untuk mencapai kebangkitan ekonomi bagi generasi muda. Program itu bernama Talenta Wirausaha BSI.
Dilauncing oleh Menteri BUMN Erick Thohir, Menteri Koperasi dan UMKM Teten Masduki dan Direktur BSI Hery Gunadi di Gedung SMESCO UKM beberapa waktu lalu, program ini menyasar empat kelompok. Pertama, wirausaha pemula, wirausaha rintisan, wirausaha berdaya, dan wirausaha santri. Hal ini linier dengan hasil kajian OJK.
Program unggulan BSI lainnya yang sudah diluncurkan kepada masyarakat antara lain, zona KHAS (Kuliner Halal, Aman dan Sehat) di Bukit Tinggi, Payakumbuh dan Padang. Selain itu juga mendukung Potret Kampung Batik Kauman. Terdiri dari 80 batik dan craf showroom, 79 UMKM kuliner, 15 spot ekonomi lain-lain.
Terakhir, BSI juga memberikan pelatihan Komunitas UMKM BSI go Digital go Global. Terdiri dari Komunitas UMKM Fokal IMM di Kota Tangerang, Fokal IMM Bengkulu area Bengkulu, Fokal IMM Luwuk area Palu, dan Fokal IMM Mataram area Denpasar. Selanjutnya, Komunitas UMKM Telkomsel 99 persen Usahaku di Kalibata area Jakarta Fatmawati dan Telkomsel Pulogadung area Jakarta Rawamangun. [nm/beq]






