Banyuwangi (beritajatim.com) – Warna-warni tradisi dan budaya tersaji di Festival Kuwung Banyuwangi. Gelaran tahunan tersebut cukup menarik dan menyita perhatian.
Ragam tradisi seni dan budaya berlalu menyimpan keindahan yang meriah. Ribuan pasang mata bahkan terbius oleh sajian yang berlangsung di RTH Maron, Kecamatan Genteng.
Festival Kuwung Banyuwangi ditampilkan dengan menggunakan jalanan sebagai catwalk. Sajian parade seni dan budaya terpampang indah di sepanjang rute.
Tidak hanya itu, terdapat panggung utama festival yang diisi pertunjukan seni budaya daerah yang tak kalah memukau. Di antaranya, tari Gandrung, Kuntulan, Jaranan Buto, Jakripah, Barong, hingga Tari Bali.
Suara musik gamelan dan angklung Banyuwangian mengiringi pertunjukan yang membuat semarak suasana. Iringan musik itu juga memadu langkah ribuan penampil yang elok dalam balutan kostum.
Seperti atraksi Barong dengan gerakan lincahnya sukses memikat para penonton. Perwakilan dari berbagai etnis dan budaya yang ada di Banyuwangi turut memeriahkan festival ini.
“Kuwung bermakna pelangi, yang menggambarkan warna-warni tradisi dan budaya Banyuwangi. Semua ini menghasilkan harmoni yang menjadi modal sosial membangun Banyuwangi,” kata Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani saat membuka acara.
Tahun ini, Festival Kuwung mengusung tema “Peningset Cinde Sutro” yang bermakna keberagaman suku, agama, dan ras di Banyuwangi terikat menjadi satu.
Keberagaman tradisi ini ditampilkan yang terbagi menjadi lima distrik. Distrik Banyuwangi dan kecamatan sekitarnya menampilkan tradisi “Jamasan”, prosesi memandikan pusaka peninggalan Buyut Cungking Wongso Karyo, berupa Tombak Gagak Rimang.
Distrik Blambangan menampilkan tradisi “Baritan”, upacara selamatan di sekitar sumber mata air sebagai wujud syukur dan permohonan hasil panen yang melimpah.
Selanjutnya Distrik Bangorejo menghadirkan tradisi “Pedut Tlatah Purwo”, yakni doa dan ritual sesaji di Alas Purwo. Sementara Distrik Rogojampi menampilkan tradisi “Sangyang Tuwuh”, ritual masyarakat Aliyan dengan tembang-tembang yang berisi harapan kebaikan.
Defile ditutup oleh Distrik Genteng dengan tradisi “Kawin Tebu”, prosesi perkawinan dua batang tebu terbaik yang diibaratkan sebagai mempelai.
“Semangat merawat keberagaman inilah yang menjadi spirit Banyuwangi Festival untuk terus digelar setiap tahunnya dengan melibatkan banyak elemen masyarakat mulai dari anak-anak hingga para sesepuh,” pungkas Ipuk. (rin/but)






