– Untuk Obed –
Kawan, seharusnya pameran tunggal ilustrasi yang bertajuk ‘Menang’ itu kamu gelar kemarin, Rabu (19/4/2023). Usia PSSI sudah 93 tahun, dan kita yakin sepak bola sebagai bagian dari imajinasi tak masuk dalam benak para petinggi sepak bola Indonesia.
Tanpa imajinasi, kita tahu, sepak bola hanya direduksi dalam regulasi yang kaku, dan negeri ini tak akan pernah fasih memainkan tikitaka, jogo bonito, gegenpressing, catenaccio, apalagi total football. Belanda menjajah kita berabad-abad, tapi filosofi sepak bola mereka susah kita adaptasi. Betapa sialnya.
Kuncinya ada di imajinasi, kawan, seperti yang akan kamu tunjukkan pada 2-12 Mei 2023 di LOOK Galeri Fakultas Humaniora dan Industri Kreatif (FHIK) Universitas Petra, Surabaya. Kamu bilang, pameran ini akan bicara empat hal yang semuanya tentang nostalgia sepak bola. Kesebelasan. Pemain. Kekalahan. Fans.
Kesebelasan (klub maupun tim nasional) adalah manifestasi dan substansi sepak bola. Bill Shankly, manajer Liverpool (klub terhebat Inggris Raya yang dicintai umat manusia), pernah mengingatkan bagaimana sosialisme bekerja dalam sepak bola. Dalam sepak bola, kita disadarkan, ikhtiar membutuhkan kolektivitas. Kebersamaan adalah jantung dalam permainan sepak bola.
Bahkan seorang bintang pun dilahirkan bukan dari kerumunan, melainkan sekumpulan manusia yang bergerak dengan tujuan dan filosofi yang sama. Kerumunan hanya melahirkan individu-individu yang saling bersaing ingin menonjol. Namun kesebelasan sepak bola menghadirkan keindahan. Kadang ‘chaos nan epik, sehingga kita bisa susah untuk mempertengkarkan: apakah gol Mohamed Salah ke gawang Manchester City bisa terjadi tanpa umpan membelah lapangan dari Trent Alexander Arnold ke Andy Robertson.
Baiklah, memamg masih ada perdebatan, apakah kita menyukai sebuah tim (kamu memilih Persebaya, Niac Mitra, Liverpool, Belanda, dan Argentina) karena takdir atau pilihan sadar pada masa kecil. Untuk teori tim sepak bola sebagai pilihan sadar pada masa kecil ini, saya tengah mengingat keras, pada usia berapa tahun saya bisa mengingat sebuah pertandingan sepak bola dengan terang-benderang.
Namun misalkan kamu tidak dilahirkan dan besar di Surabaya, masihkan kamu akan menyukai Persebaya dan Liverpool. Dan mendadak kita dihadapkan pada sebuah jawaban: Liverpool, Belanda, dan Argentina bukan kampung halamanmu. Inggris, Amsterdam, maupun Buenos Aires, mungkin hanya bisa kamu angankan dengan menekuni peta bumi.
Pada akhirnya, bagaimana kamu memilih untuk menyukai sebuah kesebelasan sepak bola (klub dan tim nasional) tidaklah penting. Dan tak ada yang peduli dengan motif, karena kecintaan seorang bocah terhadap sepak bola bisa dilahirkan hanya dengan imajinasi dan kemudian menumbuhkan kenangan.
Dan dari galeri pameranmu, kita bisa belajar, bahwa kenangan itu tak pernah tunggal. Bagai serpihan mosaik, kamu mengenang saat-saat Robin van Persie terbang dan menyundul bola ke gawang Spanyol, Steven Gerrard yang terpeleset, ciuman Achraf Hakimi kepada sang ibunda usai pertandingan, atau sekadar rambut kriwul Ruud Gullit dan Higuita yang mirip dengan rambutmu itu.
Kita tidak tahu apakah ini dipahami PSSI yang sudah uzur itu: bahwa mereka diciptakan pada masa lalu berdasarkan imajinasi kolektif tujuh klub perserikatan tentang kebebasan. Kemerdekaan. Imajinasi yang kemudian menjelma menjadi kesadaran bersama, bahwa di lapangan hijau, kita bisa berdiri sejajar dengan orang-orang Belanda atau mereka yang merasa lebih berkuasa.
Sepak bola adalah kesetaraan. Dan itu diciptakan oleh pemain-pemain seperti Ramang, Jacob Sihasale, Iswadi Idris, Aji Santoso, atau Marselino Ferdinand di atas lapangan hijau, bukan oleh para birokrat sepak bola. Tak ada yang mengingat bagaimana Kardono dan Azwar Anas memimpin PSSI. Bahkan kita lupa, Indonesia terakhir kali meraih emas sepak bola di Sea Games pada masa kepengurusan siapa.
Juga tak ada yang ingat apa yang diucapkan Michel Platini saat memimpin UEFA (kecuali jika Anda mencari di mesin perambah). Platini lebih dikenang karena nomor punggung 10 yang dikenakannya di tim nasional Prancis, atau tendangan penaltinya yang meleset dalam Piala Dunia 1986 di Meksiko.
Karena itulah saya bisa memahami, jika kamu tak akan pernah membuat ilustrasi wajah Nurdim Halid saat memimpin PSSI, terutama karena pada masa kepengurusannya, Persebaya yang kamu idolakan mendadak terbelah bagai pinang. Alih-alih demikian, kamu lebih suka membuat ilustrasi Bonek, kelompok suporter militan yang memperjuangkan Persebaya (1927) untuk diakui dan bisa berkompetisi kembali di liga resmi.
Fans, suporter, tifosi, torsedor, atau apapun namanya adalah nyawa dalam sepak bola. Mereka adalah aspek irasional dalam sebuah industri olahraga. Pemain maupun pelatih mempertimbangkan gaji dan nilai kontrak untuk memperkuat sebuah klub. Namun fans hanya membutuhkan kebanggaan dan perasaan imajinatif terhadap sesuatu yang mereka anggap sebagai representasi sosial dan kultural. Ada anekdot bahwa para buruh di Inggris mengumpulkan uang hanya untuk menyerahkannya kembali ke institusi kapitalisme yang lain setiap akhir pekan.
Kamu menggurat wajah fans dengan baik. Mungkin karena kamu bagian dari mereka. Tumbuh dan bernapas bersama mereka di belakang pagar tribun. Berbeda dengan para birokrat sepak bola yang seringkali menganggap fans sebagai konsumen dalam kalkulasi untung dan rugi melalui rating di televisi. Atau dalam bentuk denda besar terhadap klub hanya karena cerawat menyala di sudut-sudut stadion.
Dan kamu mengingatkan kembali bahwa sepak bola Indonesia berutang kepada 135 orang yang meninggal di Stadion Kanjuruhan, Malang, 1 Oktober 2022. Ilustrasimu seperti berteriak kepada semua orang bahwa mereka bukan sekadar angka. Kamu memastikan. mereka tak boleh hanya menjadi catatan kaki dalam sejarah sepak bola kita. Mereka adalah bab tersendiri yang membuat ucapan Bill Shankly terasa menohok. “Somebody said that football’s a matter of life and death to you, I said ‘listen, it’s more important than that’.”
Ada banyak interpretasi terhadap ucapan Shankly. Namun saya meyakini Shankly hendak menyindir siapapun yang menganggap sepak bola di atas segalanya, termasuk mereka yang menggunakan sepak bola hanya demi kepentingan bisnis yang mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan. Sepak bola seharusnya menancap sebagai nostalgia indah. Bukan sebagai kesedihan dan duka mendalam.
Seperti kata Jurgen Klopp, manajer Liverpool asal Jerman itu: ‘Football always seems the most important of the least important things’. Sepak bola selalu terlihat paling penting dari hal-hal yang paling tidak penting. Ketika kita harus memilih antara kehidupan dan sepak bola, kita tak pernah ragu untuk memilih yang pertama.
Karena sebagaimana halnya kehidupan, sepak bola tak cukup dimaknai dengan kemenangan, kekalahan, trofi, dan tiga angka. Bahkan dalam kekalahan bertubi-tubi seperti yang dialami klub gurem St. Pauli, kita bisa belajar. Sometimes we win, sometimes we learn. Dan tak ada air mata yang lebih menyesakkan daripada air mata kekalahan selain air mata seorang ibu yang kehilangan anaknya di Heysel, Hillsborough, juga di Kanjuruhan.
Semoga PSSI memahami itu. Atau mungkin sebaiknya kita sarankan Erick Thohir agar mampir ke galeri pameranmu: untuk menunjukkan bahwa asa tentang sepak bola yang lebih baik berada di pundaknya. [wir]






