Surabaya (beritajatim.com) – Kisah Raden Ajeng Kartini, ikon emansipasi perempuan Indonesia, tak lepas dari peran penting sang ayah, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat.
Sosroningrat, meski hidup di tengah adat Jawa yang kaku, memberikan Kartini akses pendidikan di Europese Lagere School (ELS) hingga usia 12 tahun, membebaskannya membaca koran dan buku berbahasa Belanda, serta mendukung korespondensinya dengan teman pena di Eropa.
Dukungan ini menjadi fondasi bagi Kartini untuk menulis “Habis Gelap Terbitlah Terang,” sebuah karya monumental yang menginspirasi perjuangan perempuan Indonesia. Nah, cerita serupa juga terungkap dalam kisah inspiratif salah satu keluarga di Surabaya.
Kisah tersebut berasal dari keluarga Firman Talkah dan Suwartini. Dari keluarga sederhana, lahir tiga profesor perempuan, yakni Prof. (R) Dr. Ir. Anita Firmanti, MT; Prof. Dr. Anggraini Dwi S., dr., SpRad., Subsp.NKL(K); dan Prof. Dr. Aktieva Tri Tjitrawati, S.H., M.Hum. Keberhasilan mereka tak lepas dari peran ayah yang penuh cinta, disiplin, dan visi yang jauh ke depan.
Firman Talkah, seorang ayah yang dulunya guru desa di kaki Gunung Bromo, tepatnya di Nongkojajar, Pasuruan, memutuskan untuk menjadi akuntan demi masa depan keluarga. Meski sibuk, ia selalu meluangkan waktu untuk anak-anaknya, dan membiasakan mereka membaca koran sejak kecil serta mengarahkan pendidikan mereka sesuai potensi masing-masing.
“Bapak saya itu anak yatim piatu, bisa sekolah karena beasiswa. Beliau bisa melihat karakter tiap anak dan mengarahkan pendidikan kami sesuai potensi,” kenang Anggraini, salah satu profesor tersebut, Senin (21/4/2025).
Ketegasan Firman Talkah dalam mendidik anak perempuannya tak mengurangi rasa kasih sayangnya. Anggraini mengenang bagaimana ayahnya selalu mendampingi mereka saat vaksinasi, mendorong mereka untuk mandiri dan bertanggung jawab, bahkan mendampingi hingga ke jenjang pendidikan tinggi.
Ditambahkan Aktieva, selama dirinya menempuh pendidikan di luar negeri, ia tetap menjaga komunikasi dengan ayahnya dengan rutin menelepon di waktu yang memungkinkan. Baginya, kehadiran sang ayah selalu terasa setiap hari, bahkan saat dia berada jauh dari rumah.
“Bapak selalu mendampingi kami setiap hari. Saat saya studi di luar negeri, saya menyempatkan menelepon di jam-jam yang memungkinkan agar tetap bisa bicara dengan beliau,” tuturnya.
Keberhasilan ketiga putri Firman Talkah menjadi profesor di bidang masing-masing; Anita di bidang teknik, Anggraini di neuroradiologi, dan Aktieva di hukum kesehatan, merupakan bukti nyata peran seorang ayah sebagai penentu arah masa depan anak.
Mereka bahkan menulis buku untuk mengenang dan menghargai warisan nilai-nilai yang ditanamkan ayah mereka, yakni pendidikan sebagai kunci mobilitas sosial, cinta sebagai kekuatan utama dalam mendidik, dan ketegasan sebagai fondasi karakter.
Kisah R.A. Kartini dan keluarga Firman Talkah menunjukkan bahwa peran seorang ayah melampaui sekadar pemberi nafkah. Mereka adalah pilar utama yang membentuk karakter dan menentukan arah masa depan anak-anaknya, khususnya perempuan, memberikan mereka kesempatan untuk berkembang dan berkontribusi di berbagai bidang.
Seperti kata Anggraini, “Dan kami percaya, perempuan, seperti juga laki-laki, punya kesempatan untuk berkembang dan mengisi berbagai bidang keilmuan sesuai potensi dan ketekunannya.” [ipl/ted]






