Jember (beritajatim.com) – Ikatan Keluarga Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKAPMII) Kabupaten Jember, Jawa Timur, mendukung pembentukan superholding badan usaha milik daerah (BUMD) di bawah naungan Kementerian Dalam Negeri.
Superholding ini adalah sebuah perusahaan induk yang mengontrol dan mengelola kurang lebih 1.500 BUMD di Indonesia, untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing mereka melalui sinergi, inovasi, dan penyederhanaan struktur manajemen.
Rencananya, superholding ini akan mulai beroperasi pada 2026, di bawah naungan Direktur Jenderal Pengawasan dan Pembinaan Badan Usaha Miliuk Daerah dan Badan Layanan Usaha Daerah.
Ketua IKAPMII Jember Hadinuddin mengatakan, superholding membuat sistem manajerial BUMD tersentral ke pusat. “Pertangungjawaban keuangan dan kinerjanya tidak lagi kepada kepala daerah,” katanya, Selasa (13/5/2025).
Kendati manjerialnya tersentral ke pusat, Hadinuddin menegaskan, deviden BUMD tetap tercatat sebagai pendapatan asli daerah (PAD) masing-masing.
Hadinuddin mengingatkan, sebagai unit usaha pemerintah daerah, aliran keuangan BUMD ditopang penyertaan modal dan tidak terbebani kredit bunga bank.
“Jika pengelolaannya sehat dan ditunjang oleh tenaga profesional, seharusnya BUMD bisa menjadi sumber pendapatan paling potensial,” katanya. Tentu saja syaratnya adalah transparansi kinerja dan keuangan BUMD.
Oleh sebab itu, menurut Hadinuddin, BUMD harus dijauhkan dari intervensi politik. “Terlebih untuk dijadikan penampungan tim sukses. Superholding ini bagian dari solusi mencegah politisasi BUMD,” katanya.
Hadinuddin prihatin dengan banyaknya BUMD yang tak mampu berkontribusi maksimal untuk PAD. “BUMD bisnis murni, tidak dibebani aspek sosial. Maka dia harus lebih proper dibandingkan BLUD. Ketika BLUD lebih prospek dalam menopang PAD, maka BUMD harus lebih prospek dan lebih besar sumbangsihnya,” katanya.
Khusus untuk Jember, Hadinuddin mengusulkan agar semua BUMD dinaungi satu manajemen besar. “Itu lumrah dalam dunia industri. Jadi bukan menambah BUMD sebagai induk, cukup penggabungan saja,” katanya. [wir]






