Jakarta (beritajatim.com) – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di level 7.585 pada akhir perdagangan Jumat (6/3/2026), melemah sekitar 7,89 persen dibandingkan pekan sebelumnya. Pada periode pelemahan tersebut, investor asing tercatat melakukan penjualan bersih (outflow) sebesar Rp2,5 triliun di pasar reguler.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas, David Kurniawan, menjelaskan bahwa pelemahan IHSG dalam sepekan terakhir dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik yang memicu kehati-hatian investor.
Dari sisi global, salah satu sentimen utama datang dari keputusan Fitch Ratings yang merevisi outlook peringkat utang Indonesia menjadi Negatif dari sebelumnya Stabil. Meski demikian, lembaga pemeringkat tersebut masih mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level BBB atau kategori investment grade.
“Perubahan ini menjadi sinyal bahwa pasar global mulai lebih mencermati disiplin fiskal dan arah kebijakan anggaran pemerintah,” terang David.
Sementara dari faktor domestik, muncul kekhawatiran terkait Fiscal Policy at Risk. Beberapa kebijakan ekonomi yang lebih agresif untuk mendorong pertumbuhan, seperti peningkatan penyaluran kredit dan program belanja sosial, dinilai sebagian investor berpotensi menimbulkan risiko terhadap disiplin fiskal dan kepastian arah kebijakan.
Sentimen tersebut turut memicu arus keluar dana asing dari pasar saham dan obligasi Indonesia dalam beberapa pekan terakhir.
Memasuki perdagangan pekan 9–13 Maret 2026, Indo Premier Sekuritas memproyeksikan pergerakan IHSG berada pada level support 7.400 dan resistance 7.900.
David mengatakan pelaku pasar masih akan mencermati stabilitas sentimen investor terhadap ekonomi domestik setelah revisi outlook utang Indonesia oleh Fitch Ratings.
“Fokus utama pelaku pasar pada pekan depan kemungkinan masih tertuju pada stabilitas sentimen investor terhadap ekonomi domestik, terutama setelah revisi outlook utang Indonesia oleh Fitch Ratings yang memicu kehati-hatian di pasar,” tegasnya.
Menurutnya, investor juga akan memperhatikan apakah tekanan jual investor asing mulai mereda, pergerakan nilai tukar rupiah tetap stabil, serta bagaimana respons kebijakan dari Bank Indonesia dan pemerintah dalam menjaga kepercayaan pasar.
Selain itu, dinamika harga komoditas global juga diperkirakan memengaruhi pasar saham domestik. Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran berpotensi menopang saham-saham berbasis energi dan sumber daya alam.
Merespons dinamika pasar tersebut, Indo Premier Sekuritas melalui platform IPOT merekomendasikan sejumlah strategi trading pada saham-saham yang memiliki potensi breakout.
Rekomendasi pertama adalah buy saham DAAZ dengan current price 3.820, entry di 3.820, target price 4.200 atau potensi kenaikan sekitar 9,95 persen, serta stop loss di 3.640 atau minus 4,71 persen dengan risk to reward ratio 1:2,1. Emiten ini dinilai menarik karena memiliki value chain mineral yang komprehensif dan dalam jangka pendek mampu mempertahankan tren di atas MA5.
Rekomendasi kedua adalah buy on pullback saham ELSA dengan current price 850, entry di 810, target price 900 atau potensi kenaikan 11,11 persen, serta stop loss di 780 atau minus 3,70 persen dengan risk to reward ratio 1:3,0. Emiten ini dinilai diuntungkan dari kenaikan harga minyak dan secara teknikal berpotensi melakukan retrace ke MA20 sehingga menarik untuk akumulasi saat pullback.
Selanjutnya adalah buy on breakout saham SIMP dengan current price 600, entry di 620, target price 685 atau potensi kenaikan 10,48 persen, serta stop loss di 590 atau minus 4,84 persen dengan risk to reward ratio 1:2,2. Emiten PT Salim Ivomas Pratama Tbk tersebut dinilai prospektif seiring harga minyak sawit yang mulai bergerak naik dan adanya potensi breakout dari area resistance secara teknikal.
Selain saham, IPOT juga merekomendasikan pembelian reksa dana saham Premier ETF Indonesia Consumer (XIIC) dari Power Fund Series (PFS). Instrumen ini dinilai memiliki fundamental yang menarik di tengah dinamika global, termasuk lonjakan harga minyak WTI yang naik lebih dari 3 persen ke kisaran US$77 per barel.
Kenaikan harga minyak tersebut terjadi seiring meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Situasi memanas setelah laporan bahwa kapal selam Amerika Serikat menenggelamkan kapal perang Iran di dekat Sri Lanka, yang memicu kekhawatiran meluasnya konflik di kawasan.
Ketegangan juga berdampak pada jalur pelayaran komersial di Selat Hormuz setelah adanya peringatan dari Garda Revolusi Iran. Pasar energi global kini mencermati potensi gangguan pasokan yang dapat memengaruhi stabilitas harga komoditas energi.
Pemerintah Amerika Serikat disebut berupaya meredam risiko tersebut dengan menawarkan perlindungan asuransi serta pengawalan militer bagi kapal komersial yang melintas di Teluk Persia guna menjaga stabilitas pasokan energi global. [beq]






