Jakarta (beritajatim.com) – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya berhasil menembus level psikologis 7.000, memicu rotasi investor ke saham-saham yang sensitif terhadap suku bunga. PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) melihat momen ini dapat dimanfaatkan melalui saham sektor perbankan, konsumer, serta reksa dana saham berbasis indeks MSCI Indonesia Large Cap yang dinilai memiliki prospek menarik.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas, David Kurniawan, mengatakan meski IHSG menguat pekan lalu, investor asing justru mencatatkan aksi jual (outflow) mencapai Rp 1,6 triliun di pasar reguler.
“Meskipun IHSG berada di area psikologis 7.000 yang menandakan optimisme, pelaku pasar tetap harus waspada karena pada fase kenaikan ini investor asing justru melakukan penjualan,” ujar David.
Sentimen Penggerak IHSG
David memaparkan penguatan IHSG selama sepekan terakhir terdorong kombinasi sentimen global dan domestik. Dari global, pasar merespons wacana tarif baru Amerika Serikat sebesar 32 persen terhadap beberapa negara termasuk Indonesia mulai 1 Agustus. Namun negosiasi yang diperpanjang hingga akhir Juli membuka peluang penundaan atau kompromi, menjadi sentimen positif bagi emerging market.
Selain itu, The Federal Reserve AS masih mempertahankan suku bunga di kisaran 4,25–4,5 persen. Dengan inflasi mulai mereda, pasar memproyeksikan pemangkasan suku bunga pertama pada kuartal IV 2025, sehingga meningkatkan appetite terhadap aset berisiko di negara berkembang.
Di dalam negeri, sentimen didorong oleh kebijakan Bank Indonesia yang menahan suku bunga acuan di 5,50 persen, di tengah penguatan nilai tukar Rupiah ke level Rp16.224 per dolar AS. Stabilitas moneter ini menopang optimisme pasar, ditambah lagi pemerintah kembali menegaskan target bauran energi terbarukan sebesar 23 persen pada 2025 yang membuka peluang bagi sektor energi bersih dan nikel.
Proyeksi dan Strategi Pekan Ini
Memasuki pekan 14-18 Juli 2025, IPOT memprediksi pasar saham Indonesia masih akan dibayangi dua sentimen utama: spekulasi pemangkasan suku bunga global serta dimulainya periode rilis laporan keuangan kuartal II 2025.
“Dengan inflasi global yang mulai landai, bank sentral utama mulai membuka opsi pemangkasan suku bunga sehingga mendukung pasar saham. Selain itu, minggu ini akan menjadi awal rilis earnings season untuk emiten sektor perbankan dan konsumer,” ungkap David.
Rekomendasi Saham dan Reksa Dana IPOT
Melihat peluang di tengah dinamika tersebut, IPOT merekomendasikan sejumlah saham dan instrumen reksa dana yang dinilai berpotensi memanfaatkan momentum pemangkasan suku bunga dan sentimen laporan keuangan.
- BBCA – Buy pada harga 8.625 dengan target 9.100 (potensi kenaikan 5,51%) dan stop loss 8.400. David menilai sektor perbankan sangat menarik karena potensi pelonggaran suku bunga. BBCA juga mencatatkan pertumbuhan laba bersih 16 persen YoY per Mei 2025.
- ADMF – Buy on breakout pada 9.250 dengan target 9.800 (5,95%) dan stop loss 9.000. Emiten pembiayaan ini erat kaitannya dengan suku bunga, dimana penurunan bunga dapat meningkatkan minat kredit.
- AADI – Buy pada harga 7.000 dengan target 7.575 (8,21%) dan stop loss di 6.676. Meski fokus utama AADI di batu bara, grup Adaro tengah gencar mengembangkan Adaro Green sehingga menarik pada tren energi terbarukan.
- Premier ETF MSCI Indonesia Large Cap (XIML) – IPOT juga menyarankan investor mulai melirik reksa dana saham Power Fund Series (PFS) XIML yang berbasis MSCI Indonesia Large Cap. Saham-saham kapitalisasi besar ini dinilai masih tertinggal dalam reli pasar, namun berpeluang menguat seiring arus modal asing yang mulai stabil. [beq]






