Ringkasan Berita:
- IHSG turun tajam 6,61% ke level 7.129,49 akibat tekanan global dan outflow asing.
- Pelemahan dipicu tensi geopolitik Timur Tengah dan depresiasi rupiah ke Rp17.315/USD.
- Pekan ini IHSG diprediksi bergerak mixed dengan kecenderungan melemah.
- IPOT merekomendasikan saham DKFT, ESSA, ERAA serta ETF XIIC untuk strategi defensif.
Jakarta (beritajatim.com) – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan koreksi tajam sebesar 6,61 persen sepanjang pekan 20–24 April 2026 dan ditutup di level 7.129,49 pada perdagangan Jumat (24/4/2026). Memasuki pekan ini, perdagangan saham hanya berlangsung empat hari karena libur Hari Buruh, dengan proyeksi pergerakan pasar yang masih dibayangi tekanan global.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Brigita Kinari, menjelaskan penurunan signifikan IHSG dipicu eskalasi tensi geopolitik di Timur Tengah yang mengganggu stabilitas pasar global. Kondisi ini memicu lonjakan harga minyak mentah dan meningkatkan kekhawatiran inflasi global yang berkepanjangan.
“Kondisi eksternal tersebut juga berdampak langsung pada pelemahan nilai tukar Rupiah yang terdepresiasi drastis hingga menyentuh all time low di Rp17.315 per dolar AS akibat derasnya aliran modal keluar (outflow) dari pasar keuangan domestik,” ujarnya.
Tekanan juga datang dari keputusan MSCI yang membekukan rebalancing indeks saham Indonesia untuk periode Mei 2026. Hal ini memicu aksi jual bersih investor asing secara masif, dengan akumulasi net sell mencapai Rp42,8 triliun secara year-to-date. Dampaknya, kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia turun 6,59 persen menjadi Rp12.736 triliun.
Secara sektoral, pelemahan terdalam terjadi pada sektor teknologi dan keuangan yang sensitif terhadap fluktuasi nilai tukar dan suku bunga. Penurunan saham-saham berkapitalisasi besar seperti BREN, BBCA, DSSA, BRPT, dan FILM turut menjadi pemberat utama pergerakan IHSG.
Memasuki periode 27–30 April 2026, tekanan global diperkirakan masih berlanjut. Indeks utama Wall Street seperti S&P 500, Dow Jones, dan Nasdaq masih berada dalam tekanan akibat belum tercapainya kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran. Ketidakpastian ini meningkatkan risiko gangguan pasokan energi global, khususnya di jalur strategis Selat Hormuz.
Tanpa de-eskalasi, pasar diperkirakan tetap mengantisipasi harga energi tinggi yang berpotensi menahan laju penurunan inflasi global. Kondisi ini juga mendorong ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat dari Federal Reserve, tercermin dari yield US Treasury yang tetap tinggi dan menekan aset berisiko.
Dari domestik, sentimen dipengaruhi oleh penyesuaian harga BBM non-subsidi serta tekanan pada nilai tukar rupiah. Bank Indonesia dalam Rapat Dewan Gubernur 22–23 April 2026 memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75 persen sebagai langkah menjaga stabilitas nilai tukar di tengah penguatan dolar AS.
Secara teknikal, IHSG diperkirakan bergerak mixed dengan kecenderungan konsolidasi hingga melemah. Meski berada dalam kondisi oversold yang membuka peluang technical rebound jangka pendek, ruang penguatan dinilai terbatas karena tren jangka pendek masih bearish.
“Fokus pasar berada pada level support 7.100–7.150. Jika level ini ditembus, IHSG berpotensi melanjutkan pelemahan ke area 7.022–7.080 hingga mendekati 6.917,” jelas Brigita.
Dari sisi sektoral, sektor energi diprediksi menjadi penopang di tengah harga komoditas yang tinggi. Sementara sektor transportasi dan logistik berpotensi menunjukkan ketahanan di tengah volatilitas pasar.
IPOT merekomendasikan strategi defensif dengan memilih saham berfundamental kuat dan memiliki relative strength. Beberapa rekomendasi yang diberikan antara lain DKFT (entry 805, target 900, stop loss 765), ESSA (entry 945, target 1045, stop loss 890), dan ERAA (entry 404, target 442, stop loss 388).
Selain itu, investor juga dapat mempertimbangkan Reksa Dana Saham ETF Consumer Indonesia (XIIC) sebagai alternatif investasi defensif berbasis sektor konsumsi domestik yang dinilai lebih tahan terhadap tekanan global. [beq]






