Ringkasan Berita
* Yayasan Generasi Inovatif dan Tunas Unggul (Yagitu) menggelar FGD di Surabaya untuk membedah pola konsumsi masyarakat Jatim yang kini berpusat di kafe.
* Riset terhadap 437 responden menunjukkan adanya pergeseran gaya hidup yang berisiko meningkatkan penyakit tidak menular akibat tingginya konsumsi gula.
* Pemerintah Provinsi Jatim dan para ahli mendorong kolaborasi lintas sektor, mulai dari edukasi perilaku yang praktis hingga insentif bagi pelaku usaha untuk menyediakan pilihan menu sehat, guna menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan derajat kesehatan masyarakat.
—————————————————
Surabaya (beritajatim.com) – Pergeseran gaya hidup masyarakat Jawa Timur, khususnya kalangan muda, kini memicu fenomena baru dalam pola konsumsi. Fenomena “work from cafe” (bekerja dari kafe) yang kian menjamur di Surabaya dan sekitarnya menjadi sorotan dalam Focus Group Discussion (FGD) yang digelar Yayasan Generasi Inovatif dan Tunas Unggul (Yagitu), Selasa (30/6/2026).
Riset Yagitu terhadap 437 responden menunjukkan bahwa kafe kini bukan sekadar tempat bersosialisasi, melainkan ruang produktivitas baru yang mendominasi pola makan masyarakat.
Hasil riset mengungkapkan paradoks antara kesadaran akan kesehatan dengan realita konsumsi harian:
* Dominasi Konsumsi: 56% responden lebih sering mengonsumsi makanan/minuman olahan di kafe atau kedai, dengan teh dan kopi sebagai pilihan utama.
* Alasan Konsumsi Manis: 41,2% karena menikmati rasa, 23,1% sebagai booster energi, dan 14,9% karena pengaruh budaya/kebiasaan.
* Kesenjangan Praktik: Masyarakat memahami pentingnya hidup sehat, namun terhambat oleh kurangnya konsistensi, kendala waktu, serta lingkungan sosial yang belum mendukung.
Wakil Gubernur Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, menyoroti bahwa pascapandemi, risiko penyakit tidak menular (PTM) seperti diabetes dan hipertensi kini mengintai kelompok usia muda akibat sedentary lifestyle (gaya hidup kurang gerak) dan tingginya konsumsi gula.
Koordinator Litbang Brida Jatim, Wiwik Winarsih, menambahkan bahwa pemerintah saat ini menghadapi “beban ganda” kesehatan, yakni stunting di satu sisi dan obesitas serta penyakit ginjal di sisi lain.
Pemerintah dan akademisi sepakat bahwa kebijakan ke depan tidak boleh hanya bersifat teknokratis. Akademisi UINSA, Irfan, mengusulkan pendekatan berbasis perilaku di titik konsumsi strategis:
* Intervensi di Ruang Publik: Mengajak pelaku usaha kafe dan minimarket menyediakan pilihan menu less sugar.
* Edukasi Praktis: Mendorong kebiasaan membaca label kandungan gula dan substitusi minuman manis dengan air putih.
* Harapan Publik: 33% masyarakat mengharapkan kampanye kesehatan yang masif, sementara 20,8% mendesak penambahan fasilitas olahraga publik.
Emil Dardak menegaskan bahwa tantangan ke depan adalah mencari “titik temu” yang harmonis.
“Kita harus mencari keseimbangan antara menjaga produktivitas ekonomi melalui dunia usaha dengan perlindungan kesehatan masyarakat tanpa mematikan kreativitas lokal,” pungkasnya.[rea]






